Tampilkan postingan dengan label puisi orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi orang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2009

Sajak Penyair Cina Masa Dinasti Tang

Sajak Penyair Cina Masa Dinasti Tang

Para pembaca blog yang saya cintai, selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya menampilkan tiga sajak dari seorang penyair Cina semasa dinasti Tang yang namanya cukup terkenal, Wang Wei. Tiga sajak Wang Wei yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini saya ambil dari buku "Five T'ang Poets". Semoga sajak-sajak Wang Wei tersebut dapat menghibur para pembaca sekalian. Akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.

Sajak Wang Wei

MUSIM SEMI DI TANAH PERTANIAN *)

Beburung dara mendengkur di atap
kebun aprikot
putih berbunga di pinggiran kota

para petani keluar dengan kapak di tangan
menebang pohonan mulberi
menyekop aliran air

beburung layang-layang mencari sarangnya yang lama
lelaki tua duduk di bawah matahari
almanak di pangkauannya

telah kulupakan gelas-gelas arakku
memikirkan kawanku yang hilang,
kawanku yang mati,
di kilauan rasa sakit masa lalu.

*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "A Spring Day at The Farm"

MENGAWASI PEMBURU*)

Angin bertiup
dentingan busur-panah

sang jenderal sedang berburu
di luar kota Wei

rumputan yang mengering
memberikan sang elang
mata yang lebih tajam

tanah tak bersalju
membirkan kuda-kuda
bercongklang bebas

para pemburu melintasi pusat desa kami
menuju tempat mereka berkemah

mereka menarik tali kekang, melihat ke belakang
ke tempat di mana mereka memanah jatuh sang elang

awan yang datar
seribu mil dari petang.

*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "Watching the Hunt"

UNTUK SEKRETARIS SU*)

Tempatku di mulut dusun
di luar pohon-pohon tinggi
di lingkari pedusunan yang sepi

kau datang dari jalanan berbatu itu
tidak untuk apa-apa

tak seorang pun menemuimu
di pondokanmu

kapal-kapal ikan terjebak
di sungai yang membeku

api perburuan terbakar dalam terang

malam putih
dan hening

hanya lolongan siamang
dan sebuah kuil lonceng yang jauh.

*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "To Secretary Su"

Minggu, 22 Februari 2009

Tiga Sajak Penyair Korea

Tiga Sajak Penyair Korea

Para Pembaca blog yang budiman,
selamat bertemu lagi dengan saya. Kali ini saya menampilkan tiga buah puisi dari dua penyair Korea. Ketiga puisi penyair Korea yang tayang dalam blog ini semuanya saya ambil dari buku The Columbia Anthology of Modern Korea Poetry dengan David R. McCann. Bagi saya ketiga puisi ini menarik, karena menyajikan kesederhanaan dan kejernihan imaji. Saya kira sampai segini dulu prakata dari saya. Tanpa banyak bicara lagi, saya ucapkan selamat menikmati tiga puisi dari dua penyair Korea. Selamat menikmati.

Chu Yohan (1900-1980)

Chu Yohan adalah seorang penyair Korea yang dilahirkan di Pyongyang. Dia mengurus sekolah di Tokyo dan perguruan tinggi di Shanghai. Arumdaun saebyok atau Fajar yang Indah (1924) merupakan buku puisi kesepuluh yang diterbitkan di Korea pada abad 20. Puisinya yang tayang dalam blog ini dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari puisi Life, Death (Hidup, Kematian).

HIDUP, KEMATIAN

Hidup adalah matahari yang tenggelam, sebuah samudera darah,
Suara gegap gempita langit yang kencang.
Kematian adalah fajar, kabut yang pucat,
Sebuah nafas yang murni, pakaian di hari berkabung yang putih.

Hidup adalah kelap-kelip nyala lilin.
Kematian adalah kemilau berlian.
Hidup adalah komedi duka cita.
Kematian adalah tragedi yang indah.

Tatkala gelombang menggelegak menenggak gunung
Ratapan angin meraung di tiang-tiang kapal
Di atas malam-malam bersalju menumpuk di arah yang bisu
Cahaya-cahaya bulan nan berbulu melemparkan tawanya nan penuh.

Hidup adalah sebuah jalan kecil yang kotor menghadap kematin
Kematian adalah fajar kehidupan baru
Ah, tenunan yang rumit membuat galur Kematian
Sebuah kilau karunia yang sakral dalam air bah kehidupan yang berat.

KIM SOWOL (1902-1934)

Kim Sowol adalah penyair Korea kelahiran Kusong, Propinsi Pyongyang Utara. Buku puisinya yang berjudul Chindallaekkot atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Bunga-bunga merupakan buku ke eempat belas yang diterbitkan di Korea di abad 20. Dua puisinya yang tayang dalam blog ini dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari puisi Azaleas (Bunga-bunga) dan A Day Long After (Satu Hari Kemudian yang Panjang).


BUNGA-BUNGA

Tatkala kau pergi
Muak melihatku,
Aku harus melepasmu baik-baik, tanpa kata.

Dari gunung Tak di Yongbyon
Segenggam kembang
Akan kukumpulankan dan kutaburkan di jalanmu.

Tapak demi tapak
Di leluruhan kembang sebelummu,
Kujejaki lembut, dalam, dan terus melangkah.

Tatkala kau pergi,
Muak melihatku,
Meskipun aku mampus; Tidak, aku tak akan mencucurkan airmata.

SATU HARI KEMUDIAN NAN PANJANG

Jika kau mencariku di satu hari kemudian nan panjang,
Lantas aku mungkin berkata, "aku telah lupakan."

Jika kau menyalahkanku di hatimu,
"Sangat merindukanmu, telah aku lupa."

Dalam hatimu jika kau tetap menyalahkanku,
"Aku tak dapat percaya, maka aku telah lupakan.

Tak melupakan hari ini atau kemarin;
Suatu hari kemudian nan panjang, "telah aku lupakan," kataku.

Sabtu, 13 September 2008

TIGA PUISI CHARLES BAUDELAIRE


CHARLES BAUDELAIRE (1821 – 1867)

Para pembaca blog yang budiman,
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan toga sajak dari Charles Baudelaire (C.B.) yang telah saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Ketiga sajak C.B. ini saya ambil dari buku Baudelaire; Selected Poems terbitan Phoenix Poetry tahun 2003. Ketiga sajak C.B. yang saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini semuanya berasal dari sajak-sajak C.B. yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dari bahasa aslinya, Prancis, oleh J. M. Dent.
Tak pelak, Baudelaire adalah seorang penyair Perancis dengan daya persajakan terkuat yang pernah ada di dunia. Bahkan ia dapat adalah salah satu penyair besar Perancis dan dunia di abad 19. Meski memiliki imaji dan metafora yang muram, akan tetapi sajak-sajak Baudelaire tetap memiliki nilai pukau yang sangat hebat. Maka tanpa banyak cingcong lagi saya ucapkan selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan perpuisian para pembaca blog yang saya cintai.

Sajak-sajak Charles Baudelaire

MALAM-MALAM DI SORGA TAK LEBIH CANTIK

Malam-malam di sorga tak lebih cantik
Ketimbang dirimu, kekasih, tenang dan duka cita
Bejana tangisku; dan ketika kau berpaling
Cintaku tumbuh makin kuat. Malam mengubah hari,
Aku mencintamu untuk sebuah ikatan ironi
Tempatmu di antara langit dan pembelaanku

Aku merangkak susuri tubuhmu layaknya sekumpulan
Cacing menyusuri sebuah mayat. O binatang buas, pujaan
Semakin kau perlihatkan padaku, untuk memperbesar rasa sakitku
Kebaikan dan hinaanmu yang keras kepala

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak The nightly heavend are not more beautiful

KAU AKAN MENYESAL

Siapakah yang memahami seorang penyair? Hanya sebuah nisan.
Maka hanya pada nisan kuakui mimpi-mimpiku.

Kegelapanku, kecantikanku yang muram, tatkala kau terbaring
Tidur di bawah pualam hitam, tatkala rumah besarmu
Yang kaya berubah menjadi bangunan batu yang rapuh,
Kamar tidurmu menuju sebuah kegelapan dan parit yang kosong

Dan tatkala di bawah himpitan seluruh batu-batu itu
Hatimu tak dapat berharap ataupun bergerak,
Pahamu terkunci, kakimu tak lagi berlari
Para periang mengirimkan pesan kegairahan cinta,

Bagaimana hal itu dapat berguna bila kau tak mengetahuinya
Apakah yang ditangisi kematian, kau yang beradat pelacur?
Demam dan insomnia menunggumu,
Cacing-cacing akan menggerogotimu sebagai penggerogotan rasa sesal yang dahsyat

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak You Will Repent

YA, KUINGAT RUMAH

Ya, kuingat rumah, kuingat semuanya,
Tabirnya yang berat dan dindingnya yang berkapur,
Sebuah adonan Zohral yang bergemetelakan di pohon,
Tapal lengannya menyembuyikan ketelanjangannya
Dan setiap sore cahaya matahari merendah,
Menyapu atap, rerumput, kaca jendela
Terbuka seperti sebuah berkas, menumpahkan cahayanya,
Dan menatap kita sedang duduk-duduk di separoh malam:
Kita berat bercakap, menyaksikan bayang-bayang merangkak
Menyusuri papan yang kurus dan menuju ke ruang tengah.

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak Yes, I remember the house

Selasa, 01 Juli 2008

Puisi Joseph Brodsky

MARI SAMBUTLAH: JOSEPH BRODSKY….

Selamat malam para pembaca blog yang budiman….
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan sebuah sajak dari Joseph Brodsky yang berjudul “Lagu Belfas” hasil terjemahan dari Tuan Agus R. Sarjono dan Nyonya Nikmah Sarjono. Sajak yang memukau ini saya comot dari buku “Joseph Brodsky: Kepada Ukraina” yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung pada tahun 1998. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa penyair yang bernama panjang Iosif Alexandrovich Brodsky ini merupakan salah satu penyair besar dunia yang pernah meraih hadiah Nobel di bidang sastra. Baiklah kalau begitu, tanpa banyak bacot lagi, langsung saja saya haturkan: “Lagu Belfas” karya Joseph Brodsky.
Selamat menikmati.

LAGU BELFAS

Ada seorang gadis dari sebuah kota yang berbahaya
Ia memotong pendek rambutnya yang gelap
hingga tak banyak dari dirinya yang musti berwajah masam
ketika seseorang terluka.

Ia melipat kenangannya seperti melipat parasut.
Jatuh, ia mengumpulkan tanah bakaran
dan memasak makanannya di rumah: mereka menembak
sambil makan-makan di sini.

Ah, ada lebih banyak langit di bagian ini dibanding, katakanlah,
daratan. Sejak suaranya menggantung
dan pandangannya menodai retinamu, seperti bola lampu
memucat ketika kau nyalakan.

Belahan-belahan bumi. Dan gaunnya yang sepanjang lutut
terpotong roknya untuk menangkal angin kencang
yang tiba tak terduga.
Aku bermimpi tentangnya
entah dicintai atau terbunuh
karena kotanya terlalu kecil.

1986.

Kamis, 13 Maret 2008

Puisi-puisi Kriapur


KRIAPUR (1959-1987)

Para pemirsa blog yang budiman,
Selamat berjumpa lagi dengan saya, pemandu blog kesayangan anda. Kali ini saya akan menayangkan tiga buah puisi karya Kriapur, seorang penyair Indonesia kelahiran Solo, 6 Agustus 1959. Penyair yang sangat berbakat ini meninggal dalam usia relatif muda, 28 tahun. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, 17 Februari 1987.

Bagi Kriapur, yang bernama asli Kristianto Agus Purnomo, seorang penyair adalah seorang yang: mengembara di tengah hutan perlambang yang dihuni oleh kata-kata yang dinamainya dunia supernatural, dimana bahasa telah menjilma bangunan transendental yang megah dan mempesona. Logikanya merupakan logika yang akrobatik dan patah-patah karena logika semacam itu merupakan logika transparan tapi justru memberikan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terduga (1988, 12)

Tanpa banyak cingcong, bacot, dan omong lagi, langsung saja saya persembahkan tiga buah puisi karya Kriapur yang saya ambil dari bukunya Mengenang Kriapur (1959-1987) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1988.

Akhir kata: “Selamat Menikmati!”

Puisi Kriapur

KUPAHAT MAYATKU DI AIR

kupahat mayatku di air
namaku mengalir
pada batu dasar kali kuberi wajahku
pucat dan beku

di mana-mana ada tanah
ada darah
mataku berjalan di tengah-tengah
mencari mayatku sendiri
yang mengalir
namaku sampai di pantai
ombak membawa namaku
laut menyimpan namaku
semua ada di air

Solo, 1981

AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI

Aku ingin menjadi batu di dasar kali
Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan
Sementara biar orang-orang bersibuk diri
Dalam desau rumput dan pohonan

Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara
seperti padang-padang tengadah
Atau gunung-gunung menjulang
Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian
dari kediaman

Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan
Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar
Di sangkar-sangkar putih waktu
O, aku ingin jadi batu di dasar kali

1982

NATAL BAGI MUSUH-MUSUHKU

aku tak mampu membeli daun-daun
ini fajar dengan bangunan dari air biru
membebaskan ketaklukan diriku
dan mereka yang terus mencari kematianku
kuterima dengan doa
dan bukan lagi musuhku

Solo, 1986


Selasa, 22 Januari 2008

Puisi-puisi Iwan Simatupang


IWAN SIMATUPANG (1928 – 1970)

Pemirsa blog yang budiman,
Selamat bertemu lagi dengan saya. Pada episode kali ini saya akan menayangkan tiga buah sajak dari Iwan Simatupang, seorang sastrawan besar Indonesia yang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Januari 1928, dan meninggal pada 4 Agustus 1970, yang masing-masing berjudul Requiem, Potret, dan Ziarah Malam, yang kesemuanya saya ambil dari buku kumpulan puisi Iwan Simatupang yang berjudul Ziarah Malam (Grasindo, 1993).
Sajak Requiem menarik bagi saya bukan hanya disebabkan sajak tersebut diciptakan di Surabaya, sebuah kota yang saya cintai, tetapi juga karena sajak tersebut memunyai kekuatan puitik yang kuat. Membaca sajak tersebut saya seakan dihadapkan pada khazanah puisi epik, yang saat ini semakin tidak saya temui. Sementara sajak Potret dan Ziarah Malam saya pilih untuk ditayangkan karena kedua sajak tersebut memiliki napas-cerita yang baik dan kuat, meskipun dikemas dalam bentuk puisi. Dan herannya lagi, meski naratif, ternyata kedua puisi tersebut tidak kekurangan kekuatan puitik.
Untuk menjawab mengapa napas-cerita terasa begitu kuat dan kentara pada sajak-sajak Iwan Simatupang, kiranya perkataan Dami N. Toda dalam Catatan Penutup untuk buku kumpulan puisi tersebut sungguh sangat pantas, yakni: (bahwa) tarikan dan tiupan napas-cerita dalam penciptaan puisi (yang naratif), memang wajar saja, karena puisi itu juga kisahan rasa manusia liris yang dapat dijabar dari suatu bingkai atau mengarah justru kepada membentuk bingkai (kisah), tetapi bagi Iwan rupanya peristiwa kreatif model begitu merupakan gejala yang mendesak-desak dari alam bawah-sadar panggilan naratif untuk menulis kisah/ drama/ novel sebagai dunia utamanya. (1993: 46)
Memang benar adanya, Iwan Simatupang lebih dikenal sebagai novel, cerpenis, penulis naskah darama, ataupun esais ketimbang sebagai penyair sebab “Sebagai penyair, namanya jarang disebut-sebut atau dibicarakan secara khusus oleh para peminat dan kritikus sastra. Ini beralasan jika kita ingat bahwa hingga akhir hayatnya Iwan tidak memiliki kumpulan sajak.” (1993: v)
Ah, betapa ironisnya. Hanya karena tidak memiliki buku kumpulan puisi, orang sekaliber Iwan Simatupang jarang dibicarakan dalam khazanah perpuisian Indonesia. Ini menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan banyak penyair-penyair Indonesia yang sebenarnya berkualitas bagus, hanya karena tidak memiliki buku, ia jadi jarang, atau bahkan tak pernah, dibicarakan.
Maka tanpa banyak omong lagi, saya persembahkan tiga buah sajak karya Iwan Simatupang. Selamat menikmati.

REQUIEM
mengenang manusia perang I.H. Simandjuntak:
Let., bunuh diri!

Aku tiada dapat katakan
apakah pergimu pada fajar atau senja
aku hanya tahu
kau pergi berlangit merah mencerah

Sejak kau pergi, prajurit-kematian,
kami berkesulitan menghalau gagak-gagak
ingin berhinggapan di lembah kami
dan berseru seharian dalam suatu lagu
yang bikin kami pada bergelisahan

Langit kami kini bertambah mendung
bukan oleh arakan mega yang bawa rintik-rintik
tapi oleh kawanan gagak
yang kian tutupi celah-celah terakhir
dari kebiruan langit jernih
dan kecuacaan mentari

Kawan
kami kini memikirkan
pengerahan gadis-gadis dan orang tua kami
untuk menghunus segala tombak dan keris hiasan
yang berpacakan di dinding ruang-ruang tamu kami
sebab
sejak kau pergi
pemuda-pemuda gembala dan petani kami
berlomba-lomba meninggalkan lembah
dan pergi lari ke kota
jadi penunggu taman-taman pahlawan
atau pembongkar mayat-mayat

Saksikanlah
di sini ada tantangan dari suatu kemuraman
yang ingin pudarkan segala irama dan kehijauan
dengar di sini ada kesediaan dari nafas demi nafas
yang ingin pertahankan keluasaan jantung berdetak
dalam deretan detik demi detik

Tidak kawan
kami tiada akan mencari pelarian kami
ke dunia tempat mantera berserakan
walau kami tahu
bahwa mantera ditakuti gagak-gagak
dan akan buat langit kami
kembali cerlang

Kami benci mantera-mantera
kami benci semua yang bukan datang
dari kelenjar dan darah kami
sebab kamu tahu
kekuatan yang dalam tanggapan
adalah jua kelemahan

Tidak kawan
kami akan tantang pertarungan ini
tanpa sikap dan gita kepahlawanan
sebab kami tahu
pahlawan berkehunian
bukan di bumi ini.

Kami tiada berani ramalkan
kesudahan dari pertarungan ini
kebenaran bukan lagi dalam
ramal, tenung ataupun renung

Tapi
andaikata lembah kami
menjadi lembah dari gagak-gagak
dan belulang kami mereka jadikan
bagian dari sarang-sarang mereka
ketahuilah
di sini telah rebah
manusia-manusia yang tiada akan
memikul tanda-tanda tanya lagi

Tapi
andaikata gagak dapat kami tiwaskan satu demi satu
dan haruman langit dapat kami hirup dengan luasa kembali
o, kegembiraan kami tiada akan kami unjukkan
dengan sesaat pun jatuh bertiarap di puncak bukit-bukit kami
sambil menatap kerinduan ke udara kosong
dan membacakan mantera-mantera …

Pun tiada akan kami kutuki
pemuda-pemuda kami yang lari ke kota
mencari kegemuruhan dalam menunggu kelengangan
sebab
kami mengibai semua mereka
yang tiada tahu dengan diri
pada kesampaian di tiap perbatasan

Inilah langkah pertama kami
kepengijakan suatu bumi baru
di mana kami bukan lagi tapal
dari kelampauan dan keakanan
tapi
kamilah kelampauan dan keakanan!

Inilah tarikan-nafas kami yang pertama
dalam penghirupan udara di suatu jagat baru
di mana nilai-nilai ketakberhingaan
bukan lagi terletak dalam
ramal, tenung ataupun renung
tapi:
dalam kesegaran dan keserta-mertaan!

Aku tiada dapat katakan
apakah pergimu fajar atau senja
aku hanya tahu
kau pergi berlangit merah mencerah,
pahlawan!

Surabaya, 29 Januari 1953

POTRET

Di sudut kamat seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Tunggu! Sepulangku, bahtera kita kayuh!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Belum jua pulang.

Kini dara sudah lama tak menunggu lagi.
Langkah-langkah pelan, yang biasa datang
Menjelang tengah malam dari kebun belakang
Bawa cium dan kembang—
Takkan lagi kunjung datang.

Di sudut kamar seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Jangan tunggu! Aku bangkai dalam bingkai!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Masih jua belum pelung

Kini dara sudah lama dalam biara.

ZIARAH MALAM

Tahun lalu ia lari tinggalkan biara
Kerna tak tahu tempatkan kasih
Pada Tuhan atau padri muda
Yang masuk biara kerna ingin tobat
Dari dosa: memperkosa ibu tirinya

Bulan lalu ia diangkut ke sanatorium
Kerna tak tahu apa lagi akan dikasihinya
Setelah Tuhan dan padri muda ia tinggalkan
Dan kasih yang membara di buah dadanya
Akhirnya mengapung ke paru-parunya

Siang tadi ia dikubur kemari
Kerna lewat tahu, bahwa kasih
Yang pulang dari Tuhan, daging dan kelengangan
Hanya akan berterima lagi oleh
Tepi pertemuan kembola dan langit malam

Dan di bimbang bintang Tuhan masih Maha Pengasih

Senin, 14 Januari 2008

Puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo


SUBAGIO SASTPWARDOYO (1924 - 1995)

Pengantar

Subagio Sastrowardoyo, sebuah nama paten dus beken dalam perpuisian Indonesia. Sulit sekali bagi saya untuk menghindar dari nama tersebut tiap kali berbicara tentang dunia perpuisian Indonesia, meski setelah beliau wafat pada 18 juli 1995, beratus-ratus (atau bahkan beriba-ribu) penyair bermunculan, tetapi nama tersebut terus saja menghantui benak saya.

Subagio Sastrowardoyo, lahir di Madiun, 1 Februari 1924. Selain sebagai seorang penyair, ia juga dikenal sebagai seorang kritikus sastra, esais handal, bahkan cerpenis yang mumpuni. Maka, hemat saya, sudah sepantasnya kita menaruh hormat atasnya.

Kali ini, dalam blog yang cukup sederhana ini, saya akan menayangkan 2 puisi karya Subagio Sastrowardoyo yang keduanya saya comot dari buku puisi Dan Kematian Makin Akrab (Grasindo, 1995). Buku puisi ini memuat 100 puisi Subagio Sastrowardoyo. Kiranya, akan sangat merugi apabila seorang pecinta atau penyuka puisi melewatkan buku ini.

Dua buah puisi Subagio Sastrowardoyo yang saya tayangkan kali kebetulan memiliki judul yang sama Tamu. Saya sendiri tidak tahu terjadinya penjudulan yang sama atas 2 puisi yang berbeda ini dilakukan oleh penyairnya secara sengaja atau tidak. Tetapi, jujur saja, sebenarnya saya tak terlampau peduli dengan hal itu. Sebab, toh kedua puisi dengan judul yang sama tersebut tetap memiliki kekuatan dan keasyikan masing-masing.

Selamat menikmati!

Puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo

TAMU

masih ada yang mau singgah
di pondok tua — kesan sesal
gamit rindu, gores duka
biar terbuka pintu muka
buat tamu tak terduga
siapa akan mengajak berbicara —
rumput, batu, matahari
arti kabur di pudar hari
di bawah jenjang berdiri bayang
di tangan pisau belati
tiba ia menoleh memperhati

TAMU

Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
bangun. Tapi rupanya ia tidak
merasa tersinggung waktu aku belum
mandi dan menemui dia. Rambutku masih
kusut dan pakaianku hanya baju kumal
dan sarung lusuh.
“Aku mau menjemput,” katanya pasti,
seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
dan tahu apa rencananya.
“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
“Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar
dan tak senang dibantah. Aku belum tahu
siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
tetapi sudah bisa kuduga siapa.
“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
akan mencari.”
Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
dari tuntutannya.
Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
lari entah ke mana. ke sorga atau ke neraka?”

Rabu, 02 Januari 2008

Puisi Beni R. Budiman

FRAGMEN PANDAI BESI
Harry Roesli

Lubang angin menempa kering batok kelapa sebagai
Bara yang nyala. Sebuah per baja menderita dalam
Marah yang sempurna. Gubuk bilik hitam pun merah
Gerah seperti membangun rumah dari biji keringat

Bau resah menyengat. Lalu beberapa palu melagukan
Nada pilu bertalu. Bunyi dalam nyanyi pandai besi
Yang nyeri. Berlari seperti derap kaki gerombolan
Kavaleri. Musik berisik yang menggoda para paduka

Dalam tempat yang sendiri para pandai besi seperti
Geram yang berjanji. Mata air yang terus meneteskan
Doa basah pada bukit batu. Cinta yang keras kepala
Ombak yang setia memimpikan karang menjelma pedang.

1996-1997


CAMPING

Di bawah gunung kesepian bergulung dan memuncak
Dan pada hamparan daratan kuabadikan kecemasan
Tebing batu cadas dan pinus-pinus yang mendengus
Angin mengirim cuaca sembab. Hujan tertahan awan

Dan dalam suasana temaram pohon karet berbaris
Sujud dalam sakit yang sama. Memberat ke arah
Barat. Burung-burung pun datang dan pergi dalam
Irama yang pasti. Udara seakan sendu mambatu

Dan hidup seperti tumpukan tenda yang dibangun
Dan diruntuhkan. Dan kematian berkibar pada tiang
Bendera di suatu perkemahan. Nyanyian yang rindu
Dilantunkan petualang di antara lereng dan jurang

1996


DI ANTARA BATU-BATU

Dia antara batu-batu lumut menari dalam air kali
Ganggang berenang tenang. Dan capung melayang
Bersama belalang. Anak-anak mandi di riang perigi
Nada cinta pun mengalun dibawa angin yang santun

Tapi di antara batu-batu, tubuh siapa yang setia
Dalam keramba. Patok-patok yang ditancapkan pada
Batu cadas telah membuat kandas mimpi yang bebas
Kayu dan bambu menjadi kerangkeng yang mengurung

Lagu lenggang kangkung. Dan harapan hanya pada
Hujan topan yang bisa mengirim banjir bandang
Sekaligus doa bagi kemerdekaan yang tinggal mimpi
Di keramba mungkin aku hanya ikan yang menghamba
Menanti mati tiba sambil memuja cerita nestapa

1996-1997


API UNGGUN

Malam itu tak ada kemarahan paling sempurna
Selain dingin dan gelap yang pekat. Kesepian
Mengekalkan suara burung hantu sebagai gerutu
Pinus dan trambesi mendesis dengan wajah lesi

Pada saat seperti itu, api unggunlah kerinduan
Tak tertahan itu. Panas yang mampu mencairkan
Kabut dan embun beku. Tumpukan kayu kering yang
Riang menjadi bara dan abu bagi api yang biru

Tapi, sempurnalah mimpi, rindu, dan angan-angan
Karena batu-batu tak mampu menumbuhkan nyala api
Dahan dan ranting menolak perapian. Dan gulita
Tak mencintai cahaya. Tapi memilih tanah basah

1996


GERIMIS MALAM

Gerimis malam mematahkan remang mercury
Dan bintang jadi ngeri mengulum senyum
Hanya kelelawar berani keluar. Terbang
Di antara pohon jambu batu yang kelabu

Gerimis pun memaksa setiap daun kelimis
Seperti habis keramas. Genting-genting
Mengkilap dalam gelap. Bulan pun tiarap
Bayang dan gamang menari seperti dalam

Fiksi. Mengejar tubuh lelah seperti gabah
Basah. Dan garis gerimis seakan berbaris
Membentuk barikade-barikade yang bengis
Kerangkeng yang kekal dengan lagu dingin

1996-1997


AKUARIUM

Ikankah kau yang bicara dalam kaca
Berenang dalam lampu remang
Di luar pecinta terpana pada ekormu
Yang mengundang tualang

Segera angan pun terbang pada ranjang
Pada rumah miring di atas tebing
Di bawahnya perigi mengucurkan sunyi
Dan anak sungai menyanyikan lagu nyeri

Ikankah kau yang bercanda tanpa baju dan celana
Yang memampangkan peta bagi para pengembara
Dan berjanji memberi arti sepi

Di luar bejana dadaku bergetar
Ketika bibirmu menjilat karang
dan tubuhmu bergoyang

1996


SANGLOT

Kesedihan bagaimanapun bukan harapan
Tapi biji benalu yang hinggap bersama
Burung. Dan matahari, angin, dan hujan
Mengirim gairah hidup yang baru bertahan

Dan paruh burung tak pernah mampu menolak
Makanan. Seperti juga kesedihan tak memilih
Tempat berteduh. Semua daerah baginya indah
Dan sebagai pohonan kita pun ibarat limban

Bagi segala kesedihan berjalan. Seperti kematian
Kesedihan menjelma kenyataan yang kita cintai
Mainan yang seringkali membuat takut dan bosan

1997

Kamis, 27 Desember 2007

Puisi Panji K Hadi

TUHAN YANG KESEPIAN DI TAMAN KOTA

Tuhan yang kesepian memanggilku bercakap
di taman kota.
Malam di jalan kehabisan pejalan,
menjaga kami dari kantuk. Karena kami harus terus terjaga,
kalau-kalau mimpi rakyat terlepas,
saling berkumpul mengadukan perlakukanku
kepada Tuhan. Ini bisa runyam.
Aku harus bisa mengantisipasi,
jangan sampai Tuhan tahu.
Dia itu sosoknya tak terduga,
biasanya mihak rakyat kecil.
dan Tuhan kalau kesepian,
permintaannya bisa macam-macam
sampai menjelang pagi.

Surabaya, 1994.

DIAJAKNYA AKU MELIHAT

Diajaknya aku melihat, kebun
di depan rumahnya.
Yang membuat aku takut,
teringat rumput melahap kebun belakangku,
dan celakanya hanya aku yang melihat.

Surabaya, 1994.

Puisi Imam Muhtarom

SEGARIS JALAN

Jalan setapak menggaris
dengan tepi terjal tak berwarna
jalur-jalur sebagai pembatas gerak
seperti aku berlari dan merangkak
Air hitam itu memenuhi tepian jalan
muntah oleh miringnya rencana
kaca-kaca pecah berantakan
menepi, langkahi arti hidup dan mati
Laju kecepatan terus beringsut
penuhi dada ini -- membusung --
terus membusung, tak reda rongga tersengal
-- terbatas -- demi kuasai lajur kecil ini
Di sini hanya bentakan dan rintihan
yang ada
kamus praktis telah menjadi pedoman
Jauh, jauh dari lambaian nyiur
hanya aspal bebal yang akan terus menggerus

Surabaya, 1996

SEMAMUMU

Danau membujur kaku
bersikap seperti perawan lesu
jenuh melihat nafsu terendam
Bangkitlah sang nafsu
keluarkan segala kejujuranmu
agar diam-mu terlihat berat
Dan juga kau, bukit!
bergeraklah untuk menerjang
engkau telah diperkosa
Hai, engkau yang merasa diam
jangan kau sampai hancur tersungkur
hari esok tetap bagimu

Wlingi, Blitar 1996

Puisi Abd. Kadir Zaelani

KUCING

Seekor kucing mendengar suara helikopter
Daun telinganya digerak-gerakkan
Mata meluncur ke langit
Setelah itu, menjilat perut
Menggeliat dan mendengkur lagi

1981

Puisi Rudi Isbandi

BUAT ARAJU

Dalam lembah
kau selimuti dengan beribu cemara
bergetar dalam waktu

Kelam dingin tak sampai
kau potong lengan-lengan legam. Gema
redam suara

Dari kaki langit
tergerai gelombang cemara
hampir rebah ke tanah
lalu kulihat lenganmu putih
terkulai lemah

Dalam lukisan-lukisanmu
dalam redam suara
dalam gema: bayang wajahmu

[75]

Puisi M. Anis

PERTEMUAN

Engkau datang mengganggu sepiku
Perahu kecil menyibak ombak hari berlalu
kita bertemu di Pantai Saat ini
ketika aku sendiri

lolong anjing di kejauhan
Suara-Mukah itu?
bulan jatuh di halaman
Cahaya-Mukah itu?

Kita Sahabat kentak tak terpisahkan
aku dipotong ajal sedang Engkau terus berjalan

(kemudian aku lelap dalm tidur)
masih di Sinikah Engkau?

1981

Puisi Muhammad Ali

DENYUT HARI

Sajakku ini
mengendap di dasar air
keruh dan anyir
di benua berkeringat
kerajaan laknat
tempat semua terbujur mati

Bayang-bayang berbincang
sambil mengunyah kacang
tentang pos-pos penjagaan
tiang-tiang yang ditumbangkan
dan bau busuk menyebar di udara
dari cerobong kata-kata dusta

Langit cemar berbencah
memantulkan wajah jenazah-jenazah
yang dicuri dari liang sejarah
fajar tak lagi menggelar subuh
dan orang-orang berselimut lelap tertidur
hingga dibangunkan kelak dari lubang kubur

MIMPI I

dalam mimpi kujumpa mereka
yang sudah tiada
nenek, ibu dan ayahku
anak-anak dan sahabat-sahabatku
menetes bagai embun di daun waktu
kulihat jelas wajah-wajah mereka
garis-garis hening pada permukaan,
pandangan mereka bagai kaca
dan sunggingan merekah di bibir mereka
boleh jadi ada yang mau mereka bilang
bayang-bayang menghilang
bagai embun habis tersapu di telinga waktu

Puisi Akhudiat

WONOKROMO

Wonokromo adalah leher botol
Ke tembolok Surabaya melahap & muntahan apa & siapa saja
Tak pedulu basa-basimu, sumpah serapah, protes atau acungan jempol
Bahkan sindiran atas jalan layang
Cuma sejengkal dari kontraktor/ birokrat
Leher makin menjerat simpul ketat di kerah putih tegang
Napas berat lewat pori-pori yang meregang

Wonokromo adalh hintterland, distrik udik, dulu
Trem uap & trem listrik berhenti di halte
Seberang sungai
Kebun binatang, Darmo Boulevard, kerlap-kerlip kotaraya
Seberang sungai
Di sini kancah buangan & mimpi orang usiran
Pencopet, pelacur, begundal, buronan
Mengendap di kampung-kampung yang tumbuh sendiri
Atau sembunyi di hutan lalang timur stasiun kereta api

Gerbong-gerbong pengusung pendatang/ calon gelandangan
Ulang-alik
pesisir-pedalaman
siang malam

"Kalau ke Wonokromo, jangan lupa belikan
jajan pasar atau ayam goreng di warung karen
Kedai sisa jilatan api & penggalan trotoar
Sampaikan salam ke penjaga karcis
Di gedung dulu lundruk kini bioskop."

Wonokromo menampung dan menanggung mereka
bersama air bah coklat rasa gatal ulat
Seperti emak susuan tak pernah nyapih
Sampai busung cacingan ular/ naga
Siap meledak kuman-kumannya

Wonokromo adalah monumen
Pasar terbakar

1995

Puisi Ahmad Faishal

KAMPUNG NELAYAN

saat rohku bergelayutan ombak
pohon-pohon tua tancapkan akarnya
keniscayaan lumpur yang rapuh telah di sembah
dan perahu berlayar lusuh di kendarai nelayan buta
berabad-abad menyisir pantai, hingga kulit melebam
yang tak tahu kerinduan menyerupai malam purnama
yang mencabik sunyi dan kepedihan
buat tebarkan jalan

kini mimpimu yang sombong jadi tanah kering
membakar telapak kaki anak-anak, yang terus mengayuh
sampan ke bulan
dan enggan menoleh jejak-jejaknya kembali
seperti menemukan surga, dan mengubur segenap ingatannya
ke dalam buih yang telah di lalui burung bangkai
berbulu putih
seputih kelicikan pantulan cermin
tanpa maksud, kau tempempelkan lempengan
lempengan kaca ke purmukaan perahu

aku berlayar tersesat sendirian
sekawanan mahluk asing berbisa mencincang
dengan lidahnya
bau busuk bertebaran, menyedihkan, menyakitkan
serupa bangkai ikan-ikan asing, jadi hiasan dnding
yang menghantui segala penguasa
perkambungan, di tengah karang yang mengenaskan.

Surabaya, 2002.

Puisi Subagio Sastrowardoyo (2)

DI POJOK JALAN

Bahwa kita hidup adalah perjanjian
dengan bumi: bahwa kita akan setia
kepada istri, dan kepada anak
merasa sayang. Kita bersatu dengan awan,
dengan bunga dan bianatang. Kepada
tanah terikat dengan kebaktian dan tekat.
Perjanjian diikrarkan dengan darah
dinihari, di daerah perbatasan
antara lahir dan mati.

Amat sederhana: di pojok jalan
manusia kurus menangkup bunuh diri.


DI UJUNG RANJANG

waktu tidur
tak ada yang menjamin
kau bisa bangun lagi

tidur
adalah persiapan
buat tidur lebih lelap

di ujung ranjang
menjaga bidadari
menyanyi nina-bobo


JARAK

Bapak di sorga.
Biar kita jaga jarak
ini antara kau dan aku
Kau hilang dalam keputihan ufuk
dan aku tersuruk di hutan buta.
Hiburku hanya burung di dahan
dan jauh ke lembah
gerau pasar di dusun.
Aku tahu keriuhan ini
hanya sekali terdengar
sesudah itu padam segala suara
dan aku memburu ke pintu rumah.

Bapak di sorga
biarlah kita jaga jarak ini
sebab aku ini manusia mual
Sekali kau tampak telanjang di hutan
Aku akan berteriak seperti Yahudi:
"Salib!"
Dan kau akan tinggal sebungkah
lumpur lekat di kayu.


LEIDEN 12/10/78 (LARUT MALAM)

mengapa selalu harus ada siksa
sebelum bisa terucap geliat nyawa

dia yang disalib
ditusuk lambungnya dengan tombak derita
darahnya titik murni sabda

kebahagiaan melumpuhkan tenaga berkata

sebelum sama sekali bisu
biar kujatuhkan diri dari menara
sehingga terlepas sengsara dalam syair paling merdu

Puisi Kriapur (2)

KUPU-KUPU KACA

Sehabis meninggalkan jejak kemarau lama
lalu kupu-kupu menjadi kaca
Aku makin mengerti keluh bumi ini
Malam menjadi jalan dan mencari pemilik diri

Juga terasa jiwa, memuat pedih lalu lenyap
Udara telah menutup semua peristiwa
dan suara ombak melimbur
Menggelepar di pinggir pagar yang meraj terbakar

Setiap menyusup dalam bumi kelam
Tangan-tangan mayat menjulur ke bulan
Kota yang bangkit karena hujan
Mengubur luas jaman

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

SATU

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku

Puisi Dorothea Rosa Herliany

NYANYIAN BUNGKAM

di dalam peti tak terdengar lagi
suara mengaduhmu
hanya tinggal ranjang
tanpa tepi
jendela tanpa rupa hari-hri
namun di luar tidur, perjalanan hampir
usai
mengekalkan sunyi

lalu dalam terjaga
ada dinding menyekat
mimpi kita
--pandanganmu betapa jauh
memisahkan rindu
dari kesendirian dunia

1987

MATAHARI YANG MENGALIR

rupanya dema yang tadi kuterima, cuma gerit pintu
terbuka. usia yang kembali terpenggal, dan terlepas
abad-abad terluka, mengental di lantai, cuma gerit
pintu yang terbuka; dan bayangan-bayangan terlepas
dari bingkainya. rupanya gema yang tadi kuterima,
sesudah terbuka liang bagimu, cuma desis -- pidato
pemberangkatan -- dan getar tetes air mata

rupanya bayangan daun telah rebah ke tanah yang fana,
lantas kubuka kembali daun jendela, kukemasi abad-abad
dalam kalender, pada dinding (kesaksian yang membatu)
dan rumah-rumah yang nestapa

1988

ket: diambil dari buku puisi "Matahari yang Mengalir" (Nusa Indah, 1990)