Senin, 16 Mei 2011

DONGENG MIGRASI ANTROPOSENTRISME NAIF

DONGENG MIGRASI ANTROPOSENTRISME NAIF

Cerpen: Indra Tjahyadi

Pada suatu malam ketika kalian membaca kumpulan sajak karya Afrizal Malna yang bertajuk Arsitektur Hujan, kalian seolah digiring masuk ke sebuah dunia. Sebuah dunia yang dipenuhi benda-benda. Kalian seakan dibuat tak pernah mampu melepaskan diri darinya. Bahkan kalian seakan dibuat bergantung padanya.

Tubuh kalian menggigil. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh kalian. Deras? Ya! Membasahi sekujur tubuh kalian. Kalian ketakutan. Maka kalian tutup kumpulan sajak karya Afrizal Malna yang bertajuk Arsitektur Hujan tersebut cepat-cepat. Seolah kalian tak ingin berlama-lama terjebak dan hidup dalam dunia ciptaan Afrizal tersebut. Dunia tersebut terlampau mengerikan untuk kalian.

Hingga keesokan harinya kalian memutuskan untuk menaruh kumpulan sajak karya Afrizal tersebut di gudang rumah kalian yang berbau apek tersebut. Kalian timbun kumpulan sajak karya Afrizal tersebut dengan berbagai barang yang ada di rumah kalian. Kalian kubur benda tersebut. Kalian tak ingin bertemu lagi dengan benda tersebut. Kalian, memutuskan, untuk tak ingin lagi membacanya kapan pun. Kapan pun?

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, di sebuah perpustakaan di kota kalian, kalian berkenalan dengan F.W. Bateson. Orangnya, menurut kalian, ramah, menarik, yang terpenting, adalah mempunyai kegemaran yang sama dengan kalian: berbicara mengenai sajak!

Pun kalian akhirnya menjadi akrab. Hari demi hari kalian lalui sambil berdiskusi tentang sajak. Pendek kata: tiada hari tanpa sajak! Akan tetai banyak orang mencemooh kalian. Memandang sinis pada kalian. Akan tetapi: “demi Tuhan, apakah ada yang salah berbicara mengenai sajak?”

Kalian tak perduli. Kalian terlanjur merasa asyik-masyuk dengan dunia kalian tersebut. Dunia yang dipenuhi oleh sajak, bukan televisi, kursi atau kamar mandi yang membuat kalian senantiasa telanjang, onani dan bergosok gigi. Kalian benar-benar merasa ada di sana.

Akan tetapi, sesuatu terjadi! Kalian harus berpisah! Kalian harus saling pindah dari kota kalian. Kalian bersedih. Akan tetapi, sebelum kalian saling berpindah ke tempat kalian yang baru, kalian masih sempat melakukan satu diskusi, untuk yang terakhir kalinya. Dan pada diskusi yang terakhir tersebut, ia berkata pada kalian: bahwa pengaruh zaman pada puisi tak dapat dilihat dari penyairnya, akan tetapi dari bahasa yang digunakannya.

Lalu, kalian pun saling berpisah. Kalian saling berpindah dari kota kalian. Dan kalian pun kembali bersendiri, hanya ditemani televisi, kursi dan kamar mandi kalian. Kalian pun memutuskan untuk pindah ke desa.

Beberapa minggu kemudian, kalian pun memutuskan untuk membersihkan rumah kalian. Mulai ruang tamu hingga gudang. Kalian melakukan packing barang-barang dan benda-benda milik kalian. Kalian pilih beberapa benda dan barang yang kira-kira akan kalian bawa pindah ke desa.

Akan tetapi, bukankah kalian ingin melepaskan diri dari barang dan benda-benda tersebut? Bukankah kalaian tak ingin bergantung pada barang dan benda-benda tersebut lagi? Maka, untuk apa kalian packing barang dan benda-benda tersebut?

Maka, kalian pun memutuskan untuk tidak membawa barang dan benda-benda tersebut. Kalian meutuskan hanya membawa barang dan benda yang perlu saja. Kalian tak ingin hidup seperti di kota kalian yang dulu. Kalian tak ingin menjadi manusia sepeti dalam dunia ciptaan Afrizal. Kalian mampu ada tanpa benda-benda dan barang tersebut. Kalian tak butuh benda dan barang-barang tersebut!

Akan tetapi kepindahan kalian ke desa tersebut ternyata tak membawa banyak perubahan dan manfaat bagi kalian. Sebab, baru saja kalian sampai pada hari ketiga masa kepindahan kalian ke desa tersebut, kalian sudah rindu dengan barang dan benda-benda. Kalian rindu televisi ketika hari menapak malam. Kalian rindu kursi ketika hari mengintip fajar. Kalian rindu cermin ketika hari melintas siang.

Memang, kerinduan tersebut dapat kalian rendam. Akan tetapi, hal tersebut hanyalah untuk beberapa hari saja. Dan ketika kalian mulai menginjak penghujung minggu kedua masa tinggal kalian di desa tersebut, kalian sudah tak mampu lagi meredamnya. Kalian pun memutuskan untuk kembali ke kota kalian. Dan hal tersebut berarti kembali hidup di tengah barang dan benda-benda.

Sebenarnya kalian malu untuk mengakui hal tersebut. Tetapi memang tak ada satu alasan pun yang sanggup membuat kalian untuk tidak mengakui hal tersebut. Maka, hari itu juga, kalian putuskan untuk kembali berkemas-kemas. Cepat-cepat? Ya! Dan ketika kalian berkemas-kemas tiba-tiba kalian mendengar suara pintu diketuk: Tok! Tok! Tok! Dan secara tidak sadar kalian pun berucap: masuk sajalah. Tidak ada siapa-siapa di sini; bahkan diri kami juga tak ada.[1]

Surabaya, 1997-2001.

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Dari sajak Afrizal Malna yang berjudul Pulo Gadung Dari Peta 15 Menit.

1 komentar:

MEDIA ONLINE mengatakan...

Keterpurukan hidup membuat saya melakoni pesugihan di PAK MANDALA,sebelumnya saya Mendapatkan no hp aki (082348985714) dari teman yang sudah sukses kaya, saran PAK MANDALA pesugihan yang cocok untuk saya adalah Bank GHAIB, di waktu itu tanpa banyak perhitungan saya ikuti petunjuk dari aki ,saya sudah sangat bingung dengan hutang yang beratus-ratus juta. Untung saja ada PAK MANDALA yang membantu melalui syareatnya. Saya serahkan umur 1 hari saya untuk ritual ini . pada malam pelaksanaan ritual saya merasa sesuatu yang sangat asing,. Karna merasa tak kuat kemudian saya coba melelapkan diri, entah sadar atau tidak saya melihat sosok makhluk tinggi besar yang memberikan saya kain hitam yang berisi uang 50-100rbuan yang sangat banyak setelah benar-benar sadar saya memeriksa kotak hitam yang telah saya persiapkan sebelumnya atas perintah PAK MANDALA ,dan dengan sangat terkejut saya melihat kotak tersebut penuh dengan uang 50-100ribuan sampai ratusan lembAr banyaknya , tanpa ada rekayasa saya membuat kesaksian ini karna semua ini benar-benar saya alami. SUMPAH DEMI ALLAH DAN ATS NAMA KELUARGA Saya ucapkan ribuan terimkasih kepada PAK MANDALA,saat ini hutang saya telah lunas dan saya tlah memiliki toko elektronik yang lumayan besar . sekali lagi saya ucapkan terimakasih yang sangat besar kepada PAK MANDALA dan keluarga.