Sabtu, 13 September 2008

TIGA PUISI CHARLES BAUDELAIRE


CHARLES BAUDELAIRE (1821 – 1867)

Para pembaca blog yang budiman,
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan toga sajak dari Charles Baudelaire (C.B.) yang telah saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Ketiga sajak C.B. ini saya ambil dari buku Baudelaire; Selected Poems terbitan Phoenix Poetry tahun 2003. Ketiga sajak C.B. yang saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini semuanya berasal dari sajak-sajak C.B. yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dari bahasa aslinya, Prancis, oleh J. M. Dent.
Tak pelak, Baudelaire adalah seorang penyair Perancis dengan daya persajakan terkuat yang pernah ada di dunia. Bahkan ia dapat adalah salah satu penyair besar Perancis dan dunia di abad 19. Meski memiliki imaji dan metafora yang muram, akan tetapi sajak-sajak Baudelaire tetap memiliki nilai pukau yang sangat hebat. Maka tanpa banyak cingcong lagi saya ucapkan selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan perpuisian para pembaca blog yang saya cintai.

Sajak-sajak Charles Baudelaire

MALAM-MALAM DI SORGA TAK LEBIH CANTIK

Malam-malam di sorga tak lebih cantik
Ketimbang dirimu, kekasih, tenang dan duka cita
Bejana tangisku; dan ketika kau berpaling
Cintaku tumbuh makin kuat. Malam mengubah hari,
Aku mencintamu untuk sebuah ikatan ironi
Tempatmu di antara langit dan pembelaanku

Aku merangkak susuri tubuhmu layaknya sekumpulan
Cacing menyusuri sebuah mayat. O binatang buas, pujaan
Semakin kau perlihatkan padaku, untuk memperbesar rasa sakitku
Kebaikan dan hinaanmu yang keras kepala

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak The nightly heavend are not more beautiful

KAU AKAN MENYESAL

Siapakah yang memahami seorang penyair? Hanya sebuah nisan.
Maka hanya pada nisan kuakui mimpi-mimpiku.

Kegelapanku, kecantikanku yang muram, tatkala kau terbaring
Tidur di bawah pualam hitam, tatkala rumah besarmu
Yang kaya berubah menjadi bangunan batu yang rapuh,
Kamar tidurmu menuju sebuah kegelapan dan parit yang kosong

Dan tatkala di bawah himpitan seluruh batu-batu itu
Hatimu tak dapat berharap ataupun bergerak,
Pahamu terkunci, kakimu tak lagi berlari
Para periang mengirimkan pesan kegairahan cinta,

Bagaimana hal itu dapat berguna bila kau tak mengetahuinya
Apakah yang ditangisi kematian, kau yang beradat pelacur?
Demam dan insomnia menunggumu,
Cacing-cacing akan menggerogotimu sebagai penggerogotan rasa sesal yang dahsyat

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak You Will Repent

YA, KUINGAT RUMAH

Ya, kuingat rumah, kuingat semuanya,
Tabirnya yang berat dan dindingnya yang berkapur,
Sebuah adonan Zohral yang bergemetelakan di pohon,
Tapal lengannya menyembuyikan ketelanjangannya
Dan setiap sore cahaya matahari merendah,
Menyapu atap, rerumput, kaca jendela
Terbuka seperti sebuah berkas, menumpahkan cahayanya,
Dan menatap kita sedang duduk-duduk di separoh malam:
Kita berat bercakap, menyaksikan bayang-bayang merangkak
Menyusuri papan yang kurus dan menuju ke ruang tengah.

*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak Yes, I remember the house

Kamis, 21 Agustus 2008

SORE DI STASIUN GUBENG [2]



Selamat malam para pembaca blog yang budiman….
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan foto-foto hasil jepretan saya. Foto-foto ini saya ambil di Stasiun Gubeng Surabaya. Semoga foto-foto ini dapat menghibur anda yang rindu dengan kota Surabaya. Selamat menikmati.

SORE DI STASIUN GUBENG [1]






Selamat malam para pembaca blog yang budiman….
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan foto-foto hasil jepretan saya. Foto-foto ini saya ambil di Stasiun Gubeng Surabaya. Semoga foto-foto ini dapat menghibur anda yang rindu dengan kota Surabaya. Selamat menikmati.

Selasa, 01 Juli 2008

Puisi Joseph Brodsky

MARI SAMBUTLAH: JOSEPH BRODSKY….

Selamat malam para pembaca blog yang budiman….
Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan sebuah sajak dari Joseph Brodsky yang berjudul “Lagu Belfas” hasil terjemahan dari Tuan Agus R. Sarjono dan Nyonya Nikmah Sarjono. Sajak yang memukau ini saya comot dari buku “Joseph Brodsky: Kepada Ukraina” yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung pada tahun 1998. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa penyair yang bernama panjang Iosif Alexandrovich Brodsky ini merupakan salah satu penyair besar dunia yang pernah meraih hadiah Nobel di bidang sastra. Baiklah kalau begitu, tanpa banyak bacot lagi, langsung saja saya haturkan: “Lagu Belfas” karya Joseph Brodsky.
Selamat menikmati.

LAGU BELFAS

Ada seorang gadis dari sebuah kota yang berbahaya
Ia memotong pendek rambutnya yang gelap
hingga tak banyak dari dirinya yang musti berwajah masam
ketika seseorang terluka.

Ia melipat kenangannya seperti melipat parasut.
Jatuh, ia mengumpulkan tanah bakaran
dan memasak makanannya di rumah: mereka menembak
sambil makan-makan di sini.

Ah, ada lebih banyak langit di bagian ini dibanding, katakanlah,
daratan. Sejak suaranya menggantung
dan pandangannya menodai retinamu, seperti bola lampu
memucat ketika kau nyalakan.

Belahan-belahan bumi. Dan gaunnya yang sepanjang lutut
terpotong roknya untuk menangkal angin kencang
yang tiba tak terduga.
Aku bermimpi tentangnya
entah dicintai atau terbunuh
karena kotanya terlalu kecil.

1986.

Kamis, 17 April 2008

Cerpen "Tuduhan"

Para pembaca blog yang budiman,
selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu yang anda cintai. Kali ini saya akan menayangkan sebuah cerpen karya saya sendiri yang berjudul "Tuduhan". Cerpen ini merupakan cerpen eksperiman. Rencananya cerpen ini akan dimuat di dalam sebuah kumpulan cerpen yang berjudul "Dekonstruksi, Suatu Hari...." Bersama beberapa prosais anti-cerita Surabaya, seperti Ribut Wijoto dan Muhammad Aris.
Saya kira, sebegini dulu ucapan dari saya. Selamat membaca.

TUDUHAN
Cerpen: Indra Tjahyadi*)

Alkisah, di sebuah tempat, di suatu forum, di suatu hari yang tak jauh dari masa kini seseorang pernah berhujah: “Sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter!”
Saat itu, tentu saja, mereka yang merasa dirinya sastrawan Jawa Timur berbondong-bondong lekas berberondong-berondong memberikan gugatan terhadap pernyataan itu. Menurut mereka penyataan tersebut mereka tidak beralasan dan berlandaskan itu. Mereka berpendapat, pemberi pernyataan adalah seseorang tidak mengenal baik kultur Jawa Timur yang heterogen.
Tadinya saya, sebagai seseorang yang juga merasa dirinya sastrawan Jawa Timur, juga merasa tergerak untuk ikut melakukan gugatan balik atas pernyataan itu. Tapi niatan itu saya urungkan. Saya ingin memahami dulu pernyataan itu secara utuh, terutama pada kata berkarakter, meski kata tersebut acap muncul sehari-hari.
Kiranya akan lebih mudah bagi saya dalam memahami kata tersebut apabila saya mengetahui terlebih dulu arti kata tersebut. Kata berkarakter adalah kata berimbuhan. Kata ini memiliki kata dasar karakter yang dikenai prefiks ber-. Bersama me-, pe-, se-, ter-, di-, ke-, prefiks ber- adalah salah satu imbuhan yang baku dalam bahasa Indonesia. Demi mengetahui hal ini, maka saya pun mulai mencari terlebih dahulu apa arti kata karakter.
Setelah membolak-balik isi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi III (2001) ternyata kata karakter yang saya cari tidak tercantum sebagai lema. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah kata tersebut adalah kata yang terhitung akrab dalam pergaulan berbahasa kita sehari-hari?
Kesal dengan keadaan ini, selekasnya saya tutup kamus resmi bahasa Indonesia tersebut, dan beralih kepada Kamus Inggris-Indonesia (1996) yang disusun oleh Jhon M. Echols dan Hassan Shadily. Dalam kamus tersebut, kata character berarti: (1) watak, karakter, sifat; (2) peran; (3) huruf. Meski telah mendapatkan sedikit gambaran atas arti kata karakter, tapi dalam benak saya muncul pertanyaan yang lain: apakah pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter” itu sama artinya dengan: (a) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak, (b) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bersifat, (c) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berperan, dan (d) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berhuruf?
Kata watak dalam KBBI Edisi III berarti sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Sementara kata berwatak berarti memunyai watak; berkepribadian; bertingkah laku. Jadi pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak” dapat diartikan sebagai: pertama, sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai watak. Dalam artian bahwa ia tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.
Pertanyaannya: sebagaimana sastra pada umumnya yang merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia, mungkinkah sastra Jawa Timur tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, sebab bukankah sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia, sastra Jawa Timur juga terikat dengan sifat batin manusia, dan bukankah dengan terlontarnya pernyataan tentang ihwal keberadaan itu berarti bahwa sedikit-banyak ia telah memeranguhi pikiran dan tingkah laku manusia?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya, diperlukan penelitian yang mendalam dan detail terhadap sastra Jawa Timur dalam hal pengaruh-memengaruhinya. Tanpa hal itu, pernyataan yang bersifat mendiskreditkan sastra Jawa Timur tersebut akan hanya menjadi omong kosong belaka. Sebab, secara sepintas lalu saja, saya ragu apabila insan-insan sastra di negeri ini yang tidak mengenal nama-nama besar sastrawan Jawa Timur semacam Muhammad Ali, Budi Darma, D. Zawawi Imron, Beni Setia, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Mardi Luhung, ataupun Mashuri.
Arti kedua dari penyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur tidak berkepribadian. Dalam KBBI Edisi III kata kepribadian berarti sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. Jadi secara luas arti kedua dari pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain.
Pertanyaannya: benarkah novel-novel atau cerpen-cerpen Muhammad Ali tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel atau cerpen-cerpennya A.A. Navis misalnya? Benarkan novel-novel atau cerpen-cerpennya Budi Darma tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel-novel atau cerpen-cerpennya Umar Kayam misalnya? Benarkah puisi-puisinya D. Zawawi Imron tak sedikitpun memiliki perbedaan dengan membaca puisi-puisinya Umbu Landu misalnya? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.
Ketiga, arti dari “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” adalah sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bertingkah laku. Maksudnya adalah sastra Jawa Timur adalah sastra tidak memunyai kelakuan atau perangai. Dalam artian, bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memiliki cara khas seseorang dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena.
Pertanyaannya: benarkah demikian? Apakah seorang Muhammad Ali tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Mochtar Lubis misalnya? Apakah seorang Budi Darma tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Kuntowijoyo misalnya? Apakah seorang D. Zawawi Imron tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Umbu Landu misalnya? Apakah seorang Mashuri tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Binhad Nurrohmat misalnya?
Memahami penalaran di atas, tiba-tba saya teringat dengan perkataan Remy Sylado: “Sudah jadi model Indonesia: asal gebuk, zonder nalar.” Ah, sayang sekali. Sayang sekali…

Jumat, 11 April 2008

Dari Manuskrip "Syair Pemanggul Mayat"

Para pembaca blog yang saya hormati,
selamat bertemu lagi dengan saya, pembaca acara anda yang tercinta. Kali ini saya menayangkan beberapa puisi saya yang termaktub dalam manuskrip kumpulan puisi saya yang saya beri judul "Syair Pemanggul Mayat". Manuskrip ini kelar saya susun tahun kemarin. Semoga para pembaca blog yang saya hormati suka membacanya. Akhir kata saya ucapkan: "Selamat menikmati."

MEMAJANG LANGIT

Kupajang langit. Malaikat-malaikat merintih dalam tidur
yang sepi. Bulan terbakar dan sajak lahir dari kebencian matahari.
Aku tarik segenap luka dan bau busuk orang mati.
Nafasku buruk. Bersekutu dengan iblis dan hantu malam hari.

Aku tapaki jurang-jurang kegelapan. Bumi kuubah jadi puing,
jadi ilusi kebosanan yang keji. Lumpur-lumpur melompat dan banjir
tak terbendung lagi. “O betapa khidmat kelicikan mengubah hari
jadi sungai-sungai sampah yang pesing!”
Kuseret mobil-mobil dengan dendam dan darah musim.

Bangkai-bangkai tikus memberi makan pada mimpi yang sedih.
Aku berpegang teguh pada angin. Ruhku begitu gaib menyayati iklim.
Aku maut yang bergeleparan di ranjang-ranjang! Di tanah,
hasrat yang paling jijik berlingkaran bagaikan lipan. Arwahku
menembus malam. Menjadi dosa yang menggeram di kerak Neraka.

1998.

DARI PETA KESUNYIAN WAJAHMU

Dari peta kesunyian wajahmu, lanskap cuaca
yang pecah menanam pohon kematian
di puncak diamku.

Suara-suara memanggil impresi rumah
pembakaran mayat dan tahun
tahun berbatu.

Kanopi musim begitu terjaga dan utuh,
tapi persalinan gerimis demikian
landai, membentuk semesta
dalam warna kuning kusam dari ingatan
dan kerinduan yang samun bersemu.

Aku tersepih dalam hening, dan udara
kering membeku. Di antara tiang
rumpang dan rumput kuyup kulukis taifun,
seperti anak jembalang yang membidik angin
dengan matanya yang hancur.

Aku adalah jari-jari kesia-siaan yang terpanggang
bara dan harum aroma nafasmu. Dan pada
kisaran yang dibawa kelu, berpegang
pada kabut, teguh.

Meski di sungai-sungai yang asat dan putih itu
kekal kupu-kupu telah terperangkap. Sedang
kita masih saja tak mengerti, bagaimana
seribu kunang-kunang limbur, sementara hidup
kian dihanyutkan, serupa perahu.

1999.

AKU SAKSIKAN BURUNG-BURUNG KEMATIAN
BERPENDAR DI DASAR OTAKKU

Aku saksikan burung-burung kematian berpendar di dasar otakku.
Tombak angin yang menderita menorehkan gerimis pada batu.
Seribu kali kilat rasa sakit tergila meledak dalam jantungku,
seraya menyerakkan ribuan belatung, seperti kemenawanan tahajud
daun gugur yang sarat dengan perih dan senantiasa menyeret jejakku
menuju seribu tahun.

Rupa kegelapan terkeras mengiris hitam wajahku. Anak-anak malaikat
mengubah para pejalan jadi waktu. Sesuatu tengah tumbuh
dan berdentam dalam bayanganku, seperti harapan para pembakar
yang menghuni sejarah dan seribu luka pendiamanku, yang akan senantiasa
mengubah segalanya jadi abu, seperti gairah penyair yang muram-busuk,
yang menjejalkan ribuan ular ke dalam mulutku.

Aku tenggelam dalam impian yang kuimpikan, yang memimpikan aku.
Kupu-kupu arwah mencecap kelaminku. Tangan kekar halilintar
begitu lekap membekap nafasku, perlahan pikiranku tercuri seribu niat buruk,
membangun menara geludhuk dalam warna kuning perdu, seperti tidur
sepanjang gerhana yang meniupkan hidup pada maut dan akan senantiasa
menggelantungi pucuk rentan alisku.

Kerangka musim hujan menggali kuburan pada anusku. Cuaca begitu buruk
mendirikan kuil ratusan abad dalam tubuhku. Ini adalah kegembiraan
kegembiraan yang senantiasa membangkitkan hantu-hantu dalam nafsuku,
seribu kali menorehkan amis darah pada jidatku, seperti narasi suram yang kekal:
pulau para pecinta yang tak lagi berpenghuni selain pemabuk.

1998-2000.

ORNAMEN PATAH
buat Dorothea

Dan perasaan yang mengeras dengan pohon
pohon tak bersalju telah mengapungkan
seluruh kesendirianku.

Hingga kenangan masa kanakku menggumpal,
menjelma kata-kata yang lebih muram
ketimbang mayatku.

Meski dari tatapan patung-patung yang tumbuh
dalam matamu, kita telah melihat burung
burung berlayar, seperti perahu,
dengan bayang-bayang hitam yang menancap
di ulu tidurku, serupa Nuh atau tahajud batu-batu.

Bahkan ketika sosok keparauan menajam seperti gemuruh
(tapi masih percayakah kau pada peta, peta yang ditulis
dalam kabut?).

1999-2000.


Kamis, 13 Maret 2008

Berita Kompas Pustakaloka

Pemirsa blog yang budiman,
kali ini saya menayangkan sebuah tulisan yang dari harian Kompas, Senin, 10 Maret 2008.
Selamat menikmati.

Ketika Penyair Mencari Ruang


PALUPI PANCA ASTUTI / Kompas Images
Para penyair yang memiliki blog pribadi. Dari kiri, Mashuri, Indra Tjahyadi, dan F Aziz Manna (memakai topi).
Senin, 10 Maret 2008 | 02:29 WIB

Oleh PALUPI PANCA ASTUTI

Hidup sebagai penyair bukanlah profesi menarik atau menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sulitnya menerbitkan buku-buku khusus berisi puisi atau syair-syair sastra di industri perbukuan Tanah Air menjadi salah satu sebab eksistensi penyair sukar mengakar di masyarakat.

Minat pasar yang minim terhadap karya-karya sejenis menjadi alasan klasik penerbit dalam negeri untuk tidak mencetak secara khusus buku-buku puisi. Akibatnya, ruang berekspresi menjadi terbatas. Panggung pertunjukan pun menganaktirikan pentas-pentas pembacaan puisi dan lebih mengutamakan konser musik atau pergelaran seni lainnya.

Maka, alternatif ruang untuk memanifestasikan kemahiran menggelitik kata-kata dalam bentuk sajak atau deklamasi oleh para pujangga pun semakin sempit. Pencarian ruang alternatif ini kemudian menemukan tempatnya ketika teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang di periode tahun 2000-an.

Dan, blog adalah ruang alternatif itu. Blog adalah situs web pribadi yang dapat dimiliki setiap orang dengan mengakses internet. Blog menjadi media personal setiap orang yang menulis dan ingin tulisannya tersebut tersebar luas. Kemampuan internet dengan blog-nya telah menghilangkan dinding dan jarak antarpenulis di dunia maya. Bahkan, ruang bebas ini mampu menghapus aturan sepihak yang biasa ditetapkan penerbit buku, seperti pembatasan jumlah kata, pengeditan yang tidak sesuai, hingga sudut pandang berbeda yang ingin ditonjolkan antara penerbit dan pengarang.

Blog kini tak hanya dilirik oleh mereka yang sekadar ingin menuliskan perasaan sehari-hari seperti fungsi buku harian, bukan hanya untuk menginformasikan hal-hal yang bersifat pengetahuan. Tetapi blog juga adalah ruang ekspresi para novelis, esais, maupun penyair yang ingin karya-karyanya dikenal kalangan masyarakat luas. Blog sekaligus menjadi jembatan komunikasi antarsastrawan maupun pembaca.

Jurnalistik

Hal itulah yang menjadi dasar bagi Mashuri, penyair asal Jawa Timur, untuk membuat blog berisi karya-karya pribadi pria yang juga menggeluti dunia jurnalistik ini. ”Blog pribadi yang saya buat terutama bertujuan sebagai media komunikasi di komunitas sastra, khususnya komunitas sastra Jawa Timur. Alasannya, saat ini semakin sedikit waktu kami miliki untuk sekadar bertemu atau berdiskusi,” katanya.

Mashuri yang memiliki beberapa blog namun hanya mampu memelihara satu saja menambahkan, blog bagi penyair muda seperti dirinya bermanfaat sebagai ruang alternatif berekspresi. Terlebih, saat ini penerbitan karya sastra dalam bentuk cetak bagi pengarang yang belum dikenal sangat sulit. Maka, blog adalah wadah paling tepat untuk menampilkan kreasi-kreasi mereka. ”Sayangnya, akses internet masih menjadi sesuatu yang langka di masyarakat,” sesal pria pemilik blog mashurii.blogspot.com ini.

Sementara F Aziz Manna merasakan sulitnya bertemu dengan teman-teman sesama penulis atau penyair sejak mereka memiliki kegiatan atau pekerjaan rutin lain. Kegiatan berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar perkembangan dunia sastra menjadi aktivitas yang semakin jarang dilakukan. ”Padahal, dari diskusi dan sharing itu kami biasanya mendapat ide untuk menulis atau berkarya,” jelas pegiat sastra yang kini bekerja di salah satu surat kabar di Surabaya ini.

Jika frekuensi berdiskusi, yang dikatakan Aziz sebagai ajang ”mencela” karya sesama, semakin berkurang, dikhawatirkan semangat berkreasi pun semakin menurun. Maka, ketika teknologi memudahkan cara berkomunikasi melalui media blog, kekhawatiran itu pun diminimalisasi. ”Blog adalah sarana komunikasi yang paling pas buat kami di komunitas sastra yang masih membutuhkan diskusi, meski di dunia maya,” lanjut Aziz. Pertemuan secara fisik memang kadang masih dilakukan Aziz maupun Mashuri dan teman-teman, tetapi sangat jarang.

Kesamaan tujuan menjadi indikator adanya kebutuhan yang sama ketika para penyair memutuskan untuk membuat blog. Dalam hal ini kebutuhan untuk selalu berhubungan, berkomunikasi, berdiskusi, berimajinasi bersama, hingga mungkin ”gila” bersama. Tak jarang karya-karya sastra hebat lahir dari kegiatan ngalor- ngidul bersama ini. Dan, ketika kondisi dan perkembangan hidup memaksa mereka untuk jarang bertemu muka, membuat blog adalah jalan keluarnya. Pertemuan ide menjadi fokus terpenting ketimbang pertemuan fisik. ”Kami butuh ruang untuk mengomunikasikan sekaligus mengekspresikan karya-karya kami. Dan blog adalah ruang yang tepat,” ujarnya lagi.

Ruang alternatif yang ditemukan penyair melalui blog telah memberikan kesempatan cukup luas bagi mereka untuk terus berkarya sambil membagi hasil kerja kreatif itu ke seluruh peminat sastra di pelosok negeri. Lalu, apakah langkah itu akan semakin menghambat perluasan produk kesusastraan mereka melalui wadah konvensional berupa buku cetak maupun pentas-pentas panggung sastra? Baik Mashuri maupun Aziz tidak meyakini hal itu akan terjadi.

Membantu penulis

Bagi Indra Tjahyadi, penyair muda yang juga pengajar di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo, blog justru sangat membantu para penulis untuk menerbitkan karya-karya mereka secara bebas. ”Blog tidak mengenal ketentuan-ketentuan khusus yang biasa diberlakukan para penerbit buku atau surat kabar kepada penulis yang ingin karyanya dipublikasikan. Apa pun yang ingin kita tulis, blog memberi ruang itu tanpa batas,” ujarnya.

Namun, Indra justru menyayangkan opini masyarakat secara umum yang berpendapat bahwa penulis maupun pe- nyair yang memprasastikan karyanya melalui blog bukanlah sastrawan yang sesungguhnya. Cara publikasi karya sastra melalui media cetak, baik buku, koran, maupun majalah, tetap menjadi ukuran utama seseorang dianggap sastrawan atau bukan. ”Menurut saya, pandangan itu tidak cocok di masa teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang,” lanjut Indra.

Dan, itulah arti blog buat para penyair. Menurut mereka, setiap wadah tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. ”Blog memang menjamin akses yang lebih luas, namun sistem filter yang dimilikinya sangat rapuh, bahkan cenderung tidak ada,” kata Aziz.

Sementara Indra Tjahyadi justru menyukai kebebasan yang ditawarkan blog. Sedangkan Mashuri memilih untuk tidak menuangkan seluruh karya di blog-nya.

Bagaimanapun, blog merupakan tawaran menarik bagi siapa pun yang gemar menulis dan ingin mengembangkan dirinya di sebuah ruang yang maha luas namun tetap berbatas, bukan begitu? (PALUPI PANCA ASTUTI/ Litbang Kompas)