Tampilkan postingan dengan label Puisi Dewe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Dewe. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2009

Buku Puisi "Suluk Orang Patah Hati" karya Indra Tjahyadi


Buku Puisi Terbaru dari Indra Tjahyadi

Para pembaca blog yang saya cintai, selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya menampilkan buku puisi terbaru karya Indra Tjahyadi yang berjudul Suluk Orang Patah Hati. Buku ini baru saja diterbitkan pada bulan Desember ini. Untuk menikmatinya anda dipersilahkan untuk mengunduhnya secara gratis pada alamat di bawah ini. Semoga buku ini dapat mengobati kerinduan anda pada puisi-puisi karya Indra Tjahyadi. Terima kasih.

alamat buku: http://www.4shared.com/file/163486336/7a9bb9ed/Indra_Tjahyadi_-_Suluk_Orang_P.html


Jumat, 11 April 2008

Dari Manuskrip "Syair Pemanggul Mayat"

Para pembaca blog yang saya hormati,
selamat bertemu lagi dengan saya, pembaca acara anda yang tercinta. Kali ini saya menayangkan beberapa puisi saya yang termaktub dalam manuskrip kumpulan puisi saya yang saya beri judul "Syair Pemanggul Mayat". Manuskrip ini kelar saya susun tahun kemarin. Semoga para pembaca blog yang saya hormati suka membacanya. Akhir kata saya ucapkan: "Selamat menikmati."

MEMAJANG LANGIT

Kupajang langit. Malaikat-malaikat merintih dalam tidur
yang sepi. Bulan terbakar dan sajak lahir dari kebencian matahari.
Aku tarik segenap luka dan bau busuk orang mati.
Nafasku buruk. Bersekutu dengan iblis dan hantu malam hari.

Aku tapaki jurang-jurang kegelapan. Bumi kuubah jadi puing,
jadi ilusi kebosanan yang keji. Lumpur-lumpur melompat dan banjir
tak terbendung lagi. “O betapa khidmat kelicikan mengubah hari
jadi sungai-sungai sampah yang pesing!”
Kuseret mobil-mobil dengan dendam dan darah musim.

Bangkai-bangkai tikus memberi makan pada mimpi yang sedih.
Aku berpegang teguh pada angin. Ruhku begitu gaib menyayati iklim.
Aku maut yang bergeleparan di ranjang-ranjang! Di tanah,
hasrat yang paling jijik berlingkaran bagaikan lipan. Arwahku
menembus malam. Menjadi dosa yang menggeram di kerak Neraka.

1998.

DARI PETA KESUNYIAN WAJAHMU

Dari peta kesunyian wajahmu, lanskap cuaca
yang pecah menanam pohon kematian
di puncak diamku.

Suara-suara memanggil impresi rumah
pembakaran mayat dan tahun
tahun berbatu.

Kanopi musim begitu terjaga dan utuh,
tapi persalinan gerimis demikian
landai, membentuk semesta
dalam warna kuning kusam dari ingatan
dan kerinduan yang samun bersemu.

Aku tersepih dalam hening, dan udara
kering membeku. Di antara tiang
rumpang dan rumput kuyup kulukis taifun,
seperti anak jembalang yang membidik angin
dengan matanya yang hancur.

Aku adalah jari-jari kesia-siaan yang terpanggang
bara dan harum aroma nafasmu. Dan pada
kisaran yang dibawa kelu, berpegang
pada kabut, teguh.

Meski di sungai-sungai yang asat dan putih itu
kekal kupu-kupu telah terperangkap. Sedang
kita masih saja tak mengerti, bagaimana
seribu kunang-kunang limbur, sementara hidup
kian dihanyutkan, serupa perahu.

1999.

AKU SAKSIKAN BURUNG-BURUNG KEMATIAN
BERPENDAR DI DASAR OTAKKU

Aku saksikan burung-burung kematian berpendar di dasar otakku.
Tombak angin yang menderita menorehkan gerimis pada batu.
Seribu kali kilat rasa sakit tergila meledak dalam jantungku,
seraya menyerakkan ribuan belatung, seperti kemenawanan tahajud
daun gugur yang sarat dengan perih dan senantiasa menyeret jejakku
menuju seribu tahun.

Rupa kegelapan terkeras mengiris hitam wajahku. Anak-anak malaikat
mengubah para pejalan jadi waktu. Sesuatu tengah tumbuh
dan berdentam dalam bayanganku, seperti harapan para pembakar
yang menghuni sejarah dan seribu luka pendiamanku, yang akan senantiasa
mengubah segalanya jadi abu, seperti gairah penyair yang muram-busuk,
yang menjejalkan ribuan ular ke dalam mulutku.

Aku tenggelam dalam impian yang kuimpikan, yang memimpikan aku.
Kupu-kupu arwah mencecap kelaminku. Tangan kekar halilintar
begitu lekap membekap nafasku, perlahan pikiranku tercuri seribu niat buruk,
membangun menara geludhuk dalam warna kuning perdu, seperti tidur
sepanjang gerhana yang meniupkan hidup pada maut dan akan senantiasa
menggelantungi pucuk rentan alisku.

Kerangka musim hujan menggali kuburan pada anusku. Cuaca begitu buruk
mendirikan kuil ratusan abad dalam tubuhku. Ini adalah kegembiraan
kegembiraan yang senantiasa membangkitkan hantu-hantu dalam nafsuku,
seribu kali menorehkan amis darah pada jidatku, seperti narasi suram yang kekal:
pulau para pecinta yang tak lagi berpenghuni selain pemabuk.

1998-2000.

ORNAMEN PATAH
buat Dorothea

Dan perasaan yang mengeras dengan pohon
pohon tak bersalju telah mengapungkan
seluruh kesendirianku.

Hingga kenangan masa kanakku menggumpal,
menjelma kata-kata yang lebih muram
ketimbang mayatku.

Meski dari tatapan patung-patung yang tumbuh
dalam matamu, kita telah melihat burung
burung berlayar, seperti perahu,
dengan bayang-bayang hitam yang menancap
di ulu tidurku, serupa Nuh atau tahajud batu-batu.

Bahkan ketika sosok keparauan menajam seperti gemuruh
(tapi masih percayakah kau pada peta, peta yang ditulis
dalam kabut?).

1999-2000.


Kamis, 24 Januari 2008

Puisi-puisi Indra Tjahyadi


AKU DAN EKSPEDISI WAKTU

Pemirsa blog yang budiman,
Kali ini saya menayangkan tiga puisi saya yang termuat dalam buku kumpulan puisi tunggal saya yang pertama Ekspedisi Waktu. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit Atlas Publishing, pada bulan Desember, 2004. Buku ini memuat 73 puisi yang saya ciptakan dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2004. Dalam buku ini dieditori oleh Sdr. Manaek Sinaga dan diberi pengantar oleh Dr JJ Kusni, serta diberi catatan proses kreatif oleh saya sendiri.
Semoga penayangan ini dapat memberikan manfaat bagi sekalian para pemirsa blog yang budiman. Kiranya sebegini dulu hantaran dari saya. akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.

SETELAH MENGANTARMU

setelah mengantarmu
malam terasa begitu mencekam
detik-detik yang bergerak di dalamnya
pun terasa ikut menakutkan

dua-tiga orang berjaga-jaga
dengan perasaan curiga
membangun percakapan dengan teror
teror dan isu-isu yang dipenuhi anarkisme

ada sejumput jantung
yang berderakan, di situ

melayang-layang
dalam sergapan ngeri


tapi, sebuah kabar datang lagi
seperti membuat barisan polisi
yang berdiri di depan plaza

melahirkan peradaban
sambil menggeledah
tubuh manusia

1997.

DI SEBUAH KAFE

Di sebuah kafe yang senyap kulihat tubuhmu.
Di dinding, bayang-bayang kita yang ragu membeku.
Tapi, betapakah aku tak pernah tahu manakah yang retak
terlebih dahulu: dinding itu atau bayang-bayang kita yang
kelabu. Bahkan ketika seorang pelayan datang dan aku
biarkan sosokmu berlalu, sementara di jalanan awan perlahan
berubah mendung.

1998.

IMAJISME XII
: buat Y.A.

Kunang-kunang dan aku
menyusuri jalan-jalan
yang membentuk lingkaran
di matamu.

Tanah-tanah
mencercap seratus kisah perjalanan
dan batu-batu.

Burung-burung
berlepasan dari taufan
dan tahun-tahun
berkabut.

Segala noda hitam
menancap
di dasar
jantungku:
rasa sakit
tergila
atau ajal
yang senantiasa
memekik
dalam goa
kelam
kalbuku.

Tetapi,
demikianlah,
keperihan,
kesunyian,
keindahan,
kerinduan
dalam ingatan-ingatan
yang menafikan
gemuruh.

Seperti bau-bau
geludhuk:
keletihan
dari seorang pemabuk
yang merasa melihat bulan
sepanjang mendung.

1999-2000.

Rabu, 19 Desember 2007

Puisi Indra Tjahyadi

AFTERWORD

pada akhirnya kau pun pergi
entah ke benua mana
entah ke laut mana
entah ke dunia mana
tapi masih saja
aku setia kirimkan pesan
pesan singkat buatmu
meski di gerimis tak mesti
hanya rasa sakit
yang menghubungkanku denganmu
dengan bayang-bayang darah
yang menjelma huruf
huruf sunyi
bait-bait murung sajakku

2007.

MAUT SENDIRI

engkau terasa begitu jauh
bahkan lebih jauh ketimbang bulan

sungguh pernah kurajahkan kembang
dan kupu-kupu di gelap dadamu
tapi kecantikanmu adalah kepergian
dikekalkan jarak terjauh

siapa bertugur sendiri di bawah kabut
mereguk derita yang tak juga surut
bersama luka
sunyi membakar
buku-buku umur dan kerinduanku

kiranya ingin aku mengaduh sekali lagi padamu
ketika seekor burung malam terbang
menembus mendung
tapi hanya sosok langit yang remuk
yang pernah terpekik dari suaraku

tak ada doa
tak ada airmata
yang mengantarku
sampai ke dasar lubuk kubur

di kota tandus tak berlampu
kututupkan pelupukku
kukenang namamu
darah hitam
menetes dari sajakku
butirannya yang tajam menancap
lalu menggeram di dasar maut
: mautku!
maut sendiri

2007.

POHON YANG HIDUP DI JAM LARUT
                                        : fransisca romana ninik

Kesendirian menguntitku. Kelam yang merangkak
menghisap darahku. Dari Neraka yang begitu
jauh dan tak terbayangkan, kesunyianku meluncur.
Burung-burung bersayap muram terbang diam, tiba-tiba
meledak di ujung mendung.

Kusaksikan bulan memar menyoroti malam. Kusaksikan
gelap yang pekat, kian memekat, membekas di jejakku
yang rapuh. Pernah kutangkap degup nafasmu
yang memabukkan, lantas kutempuh jalan menuju cumbu,
tapi rindu dalam lengang kalbu terlampau pahit, teramat sakit.

Bila musim beringsut, Kasihku, iklim akan mencatat
kesepianku, dan pohon-pohon yang hidup di jam
jam larut akan meneguhkan keterasinganku,
seperti bunyi sumbang dentangan lonceng gereja
di hari Paskah yang tak pernah menyebut nama. Namaku.

Kiranya masih kusimpan sisa kecupmu dalam senyap detak
jantung yang tinggal lelah berbau kubur, meski dalam
tidur, sajakku telah jauh berjalan, jatuh dalam bisu
tak berujung. Tenggelam dalam hampa tak berjuntrung.
Seperti mayat seorang perindu yang membusuk. Serupa aku.

2007.