Kamis, 17 April 2008

Cerpen "Tuduhan"

Para pembaca blog yang budiman,
selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu yang anda cintai. Kali ini saya akan menayangkan sebuah cerpen karya saya sendiri yang berjudul "Tuduhan". Cerpen ini merupakan cerpen eksperiman. Rencananya cerpen ini akan dimuat di dalam sebuah kumpulan cerpen yang berjudul "Dekonstruksi, Suatu Hari...." Bersama beberapa prosais anti-cerita Surabaya, seperti Ribut Wijoto dan Muhammad Aris.
Saya kira, sebegini dulu ucapan dari saya. Selamat membaca.

TUDUHAN
Cerpen: Indra Tjahyadi*)

Alkisah, di sebuah tempat, di suatu forum, di suatu hari yang tak jauh dari masa kini seseorang pernah berhujah: “Sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter!”
Saat itu, tentu saja, mereka yang merasa dirinya sastrawan Jawa Timur berbondong-bondong lekas berberondong-berondong memberikan gugatan terhadap pernyataan itu. Menurut mereka penyataan tersebut mereka tidak beralasan dan berlandaskan itu. Mereka berpendapat, pemberi pernyataan adalah seseorang tidak mengenal baik kultur Jawa Timur yang heterogen.
Tadinya saya, sebagai seseorang yang juga merasa dirinya sastrawan Jawa Timur, juga merasa tergerak untuk ikut melakukan gugatan balik atas pernyataan itu. Tapi niatan itu saya urungkan. Saya ingin memahami dulu pernyataan itu secara utuh, terutama pada kata berkarakter, meski kata tersebut acap muncul sehari-hari.
Kiranya akan lebih mudah bagi saya dalam memahami kata tersebut apabila saya mengetahui terlebih dulu arti kata tersebut. Kata berkarakter adalah kata berimbuhan. Kata ini memiliki kata dasar karakter yang dikenai prefiks ber-. Bersama me-, pe-, se-, ter-, di-, ke-, prefiks ber- adalah salah satu imbuhan yang baku dalam bahasa Indonesia. Demi mengetahui hal ini, maka saya pun mulai mencari terlebih dahulu apa arti kata karakter.
Setelah membolak-balik isi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi III (2001) ternyata kata karakter yang saya cari tidak tercantum sebagai lema. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah kata tersebut adalah kata yang terhitung akrab dalam pergaulan berbahasa kita sehari-hari?
Kesal dengan keadaan ini, selekasnya saya tutup kamus resmi bahasa Indonesia tersebut, dan beralih kepada Kamus Inggris-Indonesia (1996) yang disusun oleh Jhon M. Echols dan Hassan Shadily. Dalam kamus tersebut, kata character berarti: (1) watak, karakter, sifat; (2) peran; (3) huruf. Meski telah mendapatkan sedikit gambaran atas arti kata karakter, tapi dalam benak saya muncul pertanyaan yang lain: apakah pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter” itu sama artinya dengan: (a) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak, (b) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bersifat, (c) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berperan, dan (d) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berhuruf?
Kata watak dalam KBBI Edisi III berarti sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Sementara kata berwatak berarti memunyai watak; berkepribadian; bertingkah laku. Jadi pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak” dapat diartikan sebagai: pertama, sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai watak. Dalam artian bahwa ia tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.
Pertanyaannya: sebagaimana sastra pada umumnya yang merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia, mungkinkah sastra Jawa Timur tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, sebab bukankah sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia, sastra Jawa Timur juga terikat dengan sifat batin manusia, dan bukankah dengan terlontarnya pernyataan tentang ihwal keberadaan itu berarti bahwa sedikit-banyak ia telah memeranguhi pikiran dan tingkah laku manusia?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya, diperlukan penelitian yang mendalam dan detail terhadap sastra Jawa Timur dalam hal pengaruh-memengaruhinya. Tanpa hal itu, pernyataan yang bersifat mendiskreditkan sastra Jawa Timur tersebut akan hanya menjadi omong kosong belaka. Sebab, secara sepintas lalu saja, saya ragu apabila insan-insan sastra di negeri ini yang tidak mengenal nama-nama besar sastrawan Jawa Timur semacam Muhammad Ali, Budi Darma, D. Zawawi Imron, Beni Setia, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Mardi Luhung, ataupun Mashuri.
Arti kedua dari penyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur tidak berkepribadian. Dalam KBBI Edisi III kata kepribadian berarti sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. Jadi secara luas arti kedua dari pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain.
Pertanyaannya: benarkah novel-novel atau cerpen-cerpen Muhammad Ali tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel atau cerpen-cerpennya A.A. Navis misalnya? Benarkan novel-novel atau cerpen-cerpennya Budi Darma tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel-novel atau cerpen-cerpennya Umar Kayam misalnya? Benarkah puisi-puisinya D. Zawawi Imron tak sedikitpun memiliki perbedaan dengan membaca puisi-puisinya Umbu Landu misalnya? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.
Ketiga, arti dari “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” adalah sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bertingkah laku. Maksudnya adalah sastra Jawa Timur adalah sastra tidak memunyai kelakuan atau perangai. Dalam artian, bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memiliki cara khas seseorang dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena.
Pertanyaannya: benarkah demikian? Apakah seorang Muhammad Ali tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Mochtar Lubis misalnya? Apakah seorang Budi Darma tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Kuntowijoyo misalnya? Apakah seorang D. Zawawi Imron tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Umbu Landu misalnya? Apakah seorang Mashuri tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Binhad Nurrohmat misalnya?
Memahami penalaran di atas, tiba-tba saya teringat dengan perkataan Remy Sylado: “Sudah jadi model Indonesia: asal gebuk, zonder nalar.” Ah, sayang sekali. Sayang sekali…

Jumat, 11 April 2008

Dari Manuskrip "Syair Pemanggul Mayat"

Para pembaca blog yang saya hormati,
selamat bertemu lagi dengan saya, pembaca acara anda yang tercinta. Kali ini saya menayangkan beberapa puisi saya yang termaktub dalam manuskrip kumpulan puisi saya yang saya beri judul "Syair Pemanggul Mayat". Manuskrip ini kelar saya susun tahun kemarin. Semoga para pembaca blog yang saya hormati suka membacanya. Akhir kata saya ucapkan: "Selamat menikmati."

MEMAJANG LANGIT

Kupajang langit. Malaikat-malaikat merintih dalam tidur
yang sepi. Bulan terbakar dan sajak lahir dari kebencian matahari.
Aku tarik segenap luka dan bau busuk orang mati.
Nafasku buruk. Bersekutu dengan iblis dan hantu malam hari.

Aku tapaki jurang-jurang kegelapan. Bumi kuubah jadi puing,
jadi ilusi kebosanan yang keji. Lumpur-lumpur melompat dan banjir
tak terbendung lagi. “O betapa khidmat kelicikan mengubah hari
jadi sungai-sungai sampah yang pesing!”
Kuseret mobil-mobil dengan dendam dan darah musim.

Bangkai-bangkai tikus memberi makan pada mimpi yang sedih.
Aku berpegang teguh pada angin. Ruhku begitu gaib menyayati iklim.
Aku maut yang bergeleparan di ranjang-ranjang! Di tanah,
hasrat yang paling jijik berlingkaran bagaikan lipan. Arwahku
menembus malam. Menjadi dosa yang menggeram di kerak Neraka.

1998.

DARI PETA KESUNYIAN WAJAHMU

Dari peta kesunyian wajahmu, lanskap cuaca
yang pecah menanam pohon kematian
di puncak diamku.

Suara-suara memanggil impresi rumah
pembakaran mayat dan tahun
tahun berbatu.

Kanopi musim begitu terjaga dan utuh,
tapi persalinan gerimis demikian
landai, membentuk semesta
dalam warna kuning kusam dari ingatan
dan kerinduan yang samun bersemu.

Aku tersepih dalam hening, dan udara
kering membeku. Di antara tiang
rumpang dan rumput kuyup kulukis taifun,
seperti anak jembalang yang membidik angin
dengan matanya yang hancur.

Aku adalah jari-jari kesia-siaan yang terpanggang
bara dan harum aroma nafasmu. Dan pada
kisaran yang dibawa kelu, berpegang
pada kabut, teguh.

Meski di sungai-sungai yang asat dan putih itu
kekal kupu-kupu telah terperangkap. Sedang
kita masih saja tak mengerti, bagaimana
seribu kunang-kunang limbur, sementara hidup
kian dihanyutkan, serupa perahu.

1999.

AKU SAKSIKAN BURUNG-BURUNG KEMATIAN
BERPENDAR DI DASAR OTAKKU

Aku saksikan burung-burung kematian berpendar di dasar otakku.
Tombak angin yang menderita menorehkan gerimis pada batu.
Seribu kali kilat rasa sakit tergila meledak dalam jantungku,
seraya menyerakkan ribuan belatung, seperti kemenawanan tahajud
daun gugur yang sarat dengan perih dan senantiasa menyeret jejakku
menuju seribu tahun.

Rupa kegelapan terkeras mengiris hitam wajahku. Anak-anak malaikat
mengubah para pejalan jadi waktu. Sesuatu tengah tumbuh
dan berdentam dalam bayanganku, seperti harapan para pembakar
yang menghuni sejarah dan seribu luka pendiamanku, yang akan senantiasa
mengubah segalanya jadi abu, seperti gairah penyair yang muram-busuk,
yang menjejalkan ribuan ular ke dalam mulutku.

Aku tenggelam dalam impian yang kuimpikan, yang memimpikan aku.
Kupu-kupu arwah mencecap kelaminku. Tangan kekar halilintar
begitu lekap membekap nafasku, perlahan pikiranku tercuri seribu niat buruk,
membangun menara geludhuk dalam warna kuning perdu, seperti tidur
sepanjang gerhana yang meniupkan hidup pada maut dan akan senantiasa
menggelantungi pucuk rentan alisku.

Kerangka musim hujan menggali kuburan pada anusku. Cuaca begitu buruk
mendirikan kuil ratusan abad dalam tubuhku. Ini adalah kegembiraan
kegembiraan yang senantiasa membangkitkan hantu-hantu dalam nafsuku,
seribu kali menorehkan amis darah pada jidatku, seperti narasi suram yang kekal:
pulau para pecinta yang tak lagi berpenghuni selain pemabuk.

1998-2000.

ORNAMEN PATAH
buat Dorothea

Dan perasaan yang mengeras dengan pohon
pohon tak bersalju telah mengapungkan
seluruh kesendirianku.

Hingga kenangan masa kanakku menggumpal,
menjelma kata-kata yang lebih muram
ketimbang mayatku.

Meski dari tatapan patung-patung yang tumbuh
dalam matamu, kita telah melihat burung
burung berlayar, seperti perahu,
dengan bayang-bayang hitam yang menancap
di ulu tidurku, serupa Nuh atau tahajud batu-batu.

Bahkan ketika sosok keparauan menajam seperti gemuruh
(tapi masih percayakah kau pada peta, peta yang ditulis
dalam kabut?).

1999-2000.


Kamis, 13 Maret 2008

Berita Kompas Pustakaloka

Pemirsa blog yang budiman,
kali ini saya menayangkan sebuah tulisan yang dari harian Kompas, Senin, 10 Maret 2008.
Selamat menikmati.

Ketika Penyair Mencari Ruang


PALUPI PANCA ASTUTI / Kompas Images
Para penyair yang memiliki blog pribadi. Dari kiri, Mashuri, Indra Tjahyadi, dan F Aziz Manna (memakai topi).
Senin, 10 Maret 2008 | 02:29 WIB

Oleh PALUPI PANCA ASTUTI

Hidup sebagai penyair bukanlah profesi menarik atau menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sulitnya menerbitkan buku-buku khusus berisi puisi atau syair-syair sastra di industri perbukuan Tanah Air menjadi salah satu sebab eksistensi penyair sukar mengakar di masyarakat.

Minat pasar yang minim terhadap karya-karya sejenis menjadi alasan klasik penerbit dalam negeri untuk tidak mencetak secara khusus buku-buku puisi. Akibatnya, ruang berekspresi menjadi terbatas. Panggung pertunjukan pun menganaktirikan pentas-pentas pembacaan puisi dan lebih mengutamakan konser musik atau pergelaran seni lainnya.

Maka, alternatif ruang untuk memanifestasikan kemahiran menggelitik kata-kata dalam bentuk sajak atau deklamasi oleh para pujangga pun semakin sempit. Pencarian ruang alternatif ini kemudian menemukan tempatnya ketika teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang di periode tahun 2000-an.

Dan, blog adalah ruang alternatif itu. Blog adalah situs web pribadi yang dapat dimiliki setiap orang dengan mengakses internet. Blog menjadi media personal setiap orang yang menulis dan ingin tulisannya tersebut tersebar luas. Kemampuan internet dengan blog-nya telah menghilangkan dinding dan jarak antarpenulis di dunia maya. Bahkan, ruang bebas ini mampu menghapus aturan sepihak yang biasa ditetapkan penerbit buku, seperti pembatasan jumlah kata, pengeditan yang tidak sesuai, hingga sudut pandang berbeda yang ingin ditonjolkan antara penerbit dan pengarang.

Blog kini tak hanya dilirik oleh mereka yang sekadar ingin menuliskan perasaan sehari-hari seperti fungsi buku harian, bukan hanya untuk menginformasikan hal-hal yang bersifat pengetahuan. Tetapi blog juga adalah ruang ekspresi para novelis, esais, maupun penyair yang ingin karya-karyanya dikenal kalangan masyarakat luas. Blog sekaligus menjadi jembatan komunikasi antarsastrawan maupun pembaca.

Jurnalistik

Hal itulah yang menjadi dasar bagi Mashuri, penyair asal Jawa Timur, untuk membuat blog berisi karya-karya pribadi pria yang juga menggeluti dunia jurnalistik ini. ”Blog pribadi yang saya buat terutama bertujuan sebagai media komunikasi di komunitas sastra, khususnya komunitas sastra Jawa Timur. Alasannya, saat ini semakin sedikit waktu kami miliki untuk sekadar bertemu atau berdiskusi,” katanya.

Mashuri yang memiliki beberapa blog namun hanya mampu memelihara satu saja menambahkan, blog bagi penyair muda seperti dirinya bermanfaat sebagai ruang alternatif berekspresi. Terlebih, saat ini penerbitan karya sastra dalam bentuk cetak bagi pengarang yang belum dikenal sangat sulit. Maka, blog adalah wadah paling tepat untuk menampilkan kreasi-kreasi mereka. ”Sayangnya, akses internet masih menjadi sesuatu yang langka di masyarakat,” sesal pria pemilik blog mashurii.blogspot.com ini.

Sementara F Aziz Manna merasakan sulitnya bertemu dengan teman-teman sesama penulis atau penyair sejak mereka memiliki kegiatan atau pekerjaan rutin lain. Kegiatan berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar perkembangan dunia sastra menjadi aktivitas yang semakin jarang dilakukan. ”Padahal, dari diskusi dan sharing itu kami biasanya mendapat ide untuk menulis atau berkarya,” jelas pegiat sastra yang kini bekerja di salah satu surat kabar di Surabaya ini.

Jika frekuensi berdiskusi, yang dikatakan Aziz sebagai ajang ”mencela” karya sesama, semakin berkurang, dikhawatirkan semangat berkreasi pun semakin menurun. Maka, ketika teknologi memudahkan cara berkomunikasi melalui media blog, kekhawatiran itu pun diminimalisasi. ”Blog adalah sarana komunikasi yang paling pas buat kami di komunitas sastra yang masih membutuhkan diskusi, meski di dunia maya,” lanjut Aziz. Pertemuan secara fisik memang kadang masih dilakukan Aziz maupun Mashuri dan teman-teman, tetapi sangat jarang.

Kesamaan tujuan menjadi indikator adanya kebutuhan yang sama ketika para penyair memutuskan untuk membuat blog. Dalam hal ini kebutuhan untuk selalu berhubungan, berkomunikasi, berdiskusi, berimajinasi bersama, hingga mungkin ”gila” bersama. Tak jarang karya-karya sastra hebat lahir dari kegiatan ngalor- ngidul bersama ini. Dan, ketika kondisi dan perkembangan hidup memaksa mereka untuk jarang bertemu muka, membuat blog adalah jalan keluarnya. Pertemuan ide menjadi fokus terpenting ketimbang pertemuan fisik. ”Kami butuh ruang untuk mengomunikasikan sekaligus mengekspresikan karya-karya kami. Dan blog adalah ruang yang tepat,” ujarnya lagi.

Ruang alternatif yang ditemukan penyair melalui blog telah memberikan kesempatan cukup luas bagi mereka untuk terus berkarya sambil membagi hasil kerja kreatif itu ke seluruh peminat sastra di pelosok negeri. Lalu, apakah langkah itu akan semakin menghambat perluasan produk kesusastraan mereka melalui wadah konvensional berupa buku cetak maupun pentas-pentas panggung sastra? Baik Mashuri maupun Aziz tidak meyakini hal itu akan terjadi.

Membantu penulis

Bagi Indra Tjahyadi, penyair muda yang juga pengajar di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo, blog justru sangat membantu para penulis untuk menerbitkan karya-karya mereka secara bebas. ”Blog tidak mengenal ketentuan-ketentuan khusus yang biasa diberlakukan para penerbit buku atau surat kabar kepada penulis yang ingin karyanya dipublikasikan. Apa pun yang ingin kita tulis, blog memberi ruang itu tanpa batas,” ujarnya.

Namun, Indra justru menyayangkan opini masyarakat secara umum yang berpendapat bahwa penulis maupun pe- nyair yang memprasastikan karyanya melalui blog bukanlah sastrawan yang sesungguhnya. Cara publikasi karya sastra melalui media cetak, baik buku, koran, maupun majalah, tetap menjadi ukuran utama seseorang dianggap sastrawan atau bukan. ”Menurut saya, pandangan itu tidak cocok di masa teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang,” lanjut Indra.

Dan, itulah arti blog buat para penyair. Menurut mereka, setiap wadah tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. ”Blog memang menjamin akses yang lebih luas, namun sistem filter yang dimilikinya sangat rapuh, bahkan cenderung tidak ada,” kata Aziz.

Sementara Indra Tjahyadi justru menyukai kebebasan yang ditawarkan blog. Sedangkan Mashuri memilih untuk tidak menuangkan seluruh karya di blog-nya.

Bagaimanapun, blog merupakan tawaran menarik bagi siapa pun yang gemar menulis dan ingin mengembangkan dirinya di sebuah ruang yang maha luas namun tetap berbatas, bukan begitu? (PALUPI PANCA ASTUTI/ Litbang Kompas)

Puisi-puisi Kriapur


KRIAPUR (1959-1987)

Para pemirsa blog yang budiman,
Selamat berjumpa lagi dengan saya, pemandu blog kesayangan anda. Kali ini saya akan menayangkan tiga buah puisi karya Kriapur, seorang penyair Indonesia kelahiran Solo, 6 Agustus 1959. Penyair yang sangat berbakat ini meninggal dalam usia relatif muda, 28 tahun. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, 17 Februari 1987.

Bagi Kriapur, yang bernama asli Kristianto Agus Purnomo, seorang penyair adalah seorang yang: mengembara di tengah hutan perlambang yang dihuni oleh kata-kata yang dinamainya dunia supernatural, dimana bahasa telah menjilma bangunan transendental yang megah dan mempesona. Logikanya merupakan logika yang akrobatik dan patah-patah karena logika semacam itu merupakan logika transparan tapi justru memberikan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terduga (1988, 12)

Tanpa banyak cingcong, bacot, dan omong lagi, langsung saja saya persembahkan tiga buah puisi karya Kriapur yang saya ambil dari bukunya Mengenang Kriapur (1959-1987) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1988.

Akhir kata: “Selamat Menikmati!”

Puisi Kriapur

KUPAHAT MAYATKU DI AIR

kupahat mayatku di air
namaku mengalir
pada batu dasar kali kuberi wajahku
pucat dan beku

di mana-mana ada tanah
ada darah
mataku berjalan di tengah-tengah
mencari mayatku sendiri
yang mengalir
namaku sampai di pantai
ombak membawa namaku
laut menyimpan namaku
semua ada di air

Solo, 1981

AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI

Aku ingin menjadi batu di dasar kali
Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan
Sementara biar orang-orang bersibuk diri
Dalam desau rumput dan pohonan

Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara
seperti padang-padang tengadah
Atau gunung-gunung menjulang
Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian
dari kediaman

Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan
Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar
Di sangkar-sangkar putih waktu
O, aku ingin jadi batu di dasar kali

1982

NATAL BAGI MUSUH-MUSUHKU

aku tak mampu membeli daun-daun
ini fajar dengan bangunan dari air biru
membebaskan ketaklukan diriku
dan mereka yang terus mencari kematianku
kuterima dengan doa
dan bukan lagi musuhku

Solo, 1986


Senin, 25 Februari 2008

Foto-foto (1)




Pemirsa blog yang budiman,

Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog kesayangan anda. Kali ini saya akan menampilkan beberapa foto hasil jepretan saya. Maklum beberapa hari terakhir ini saya lagi kecanduan untuk memfoto apa saja.

Sekian dulu prakata dari saya. Selamat menikmati.

Kamis, 24 Januari 2008

Puisi-puisi Indra Tjahyadi


AKU DAN EKSPEDISI WAKTU

Pemirsa blog yang budiman,
Kali ini saya menayangkan tiga puisi saya yang termuat dalam buku kumpulan puisi tunggal saya yang pertama Ekspedisi Waktu. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit Atlas Publishing, pada bulan Desember, 2004. Buku ini memuat 73 puisi yang saya ciptakan dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2004. Dalam buku ini dieditori oleh Sdr. Manaek Sinaga dan diberi pengantar oleh Dr JJ Kusni, serta diberi catatan proses kreatif oleh saya sendiri.
Semoga penayangan ini dapat memberikan manfaat bagi sekalian para pemirsa blog yang budiman. Kiranya sebegini dulu hantaran dari saya. akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.

SETELAH MENGANTARMU

setelah mengantarmu
malam terasa begitu mencekam
detik-detik yang bergerak di dalamnya
pun terasa ikut menakutkan

dua-tiga orang berjaga-jaga
dengan perasaan curiga
membangun percakapan dengan teror
teror dan isu-isu yang dipenuhi anarkisme

ada sejumput jantung
yang berderakan, di situ

melayang-layang
dalam sergapan ngeri


tapi, sebuah kabar datang lagi
seperti membuat barisan polisi
yang berdiri di depan plaza

melahirkan peradaban
sambil menggeledah
tubuh manusia

1997.

DI SEBUAH KAFE

Di sebuah kafe yang senyap kulihat tubuhmu.
Di dinding, bayang-bayang kita yang ragu membeku.
Tapi, betapakah aku tak pernah tahu manakah yang retak
terlebih dahulu: dinding itu atau bayang-bayang kita yang
kelabu. Bahkan ketika seorang pelayan datang dan aku
biarkan sosokmu berlalu, sementara di jalanan awan perlahan
berubah mendung.

1998.

IMAJISME XII
: buat Y.A.

Kunang-kunang dan aku
menyusuri jalan-jalan
yang membentuk lingkaran
di matamu.

Tanah-tanah
mencercap seratus kisah perjalanan
dan batu-batu.

Burung-burung
berlepasan dari taufan
dan tahun-tahun
berkabut.

Segala noda hitam
menancap
di dasar
jantungku:
rasa sakit
tergila
atau ajal
yang senantiasa
memekik
dalam goa
kelam
kalbuku.

Tetapi,
demikianlah,
keperihan,
kesunyian,
keindahan,
kerinduan
dalam ingatan-ingatan
yang menafikan
gemuruh.

Seperti bau-bau
geludhuk:
keletihan
dari seorang pemabuk
yang merasa melihat bulan
sepanjang mendung.

1999-2000.

Selasa, 22 Januari 2008

Puisi-puisi Iwan Simatupang


IWAN SIMATUPANG (1928 – 1970)

Pemirsa blog yang budiman,
Selamat bertemu lagi dengan saya. Pada episode kali ini saya akan menayangkan tiga buah sajak dari Iwan Simatupang, seorang sastrawan besar Indonesia yang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Januari 1928, dan meninggal pada 4 Agustus 1970, yang masing-masing berjudul Requiem, Potret, dan Ziarah Malam, yang kesemuanya saya ambil dari buku kumpulan puisi Iwan Simatupang yang berjudul Ziarah Malam (Grasindo, 1993).
Sajak Requiem menarik bagi saya bukan hanya disebabkan sajak tersebut diciptakan di Surabaya, sebuah kota yang saya cintai, tetapi juga karena sajak tersebut memunyai kekuatan puitik yang kuat. Membaca sajak tersebut saya seakan dihadapkan pada khazanah puisi epik, yang saat ini semakin tidak saya temui. Sementara sajak Potret dan Ziarah Malam saya pilih untuk ditayangkan karena kedua sajak tersebut memiliki napas-cerita yang baik dan kuat, meskipun dikemas dalam bentuk puisi. Dan herannya lagi, meski naratif, ternyata kedua puisi tersebut tidak kekurangan kekuatan puitik.
Untuk menjawab mengapa napas-cerita terasa begitu kuat dan kentara pada sajak-sajak Iwan Simatupang, kiranya perkataan Dami N. Toda dalam Catatan Penutup untuk buku kumpulan puisi tersebut sungguh sangat pantas, yakni: (bahwa) tarikan dan tiupan napas-cerita dalam penciptaan puisi (yang naratif), memang wajar saja, karena puisi itu juga kisahan rasa manusia liris yang dapat dijabar dari suatu bingkai atau mengarah justru kepada membentuk bingkai (kisah), tetapi bagi Iwan rupanya peristiwa kreatif model begitu merupakan gejala yang mendesak-desak dari alam bawah-sadar panggilan naratif untuk menulis kisah/ drama/ novel sebagai dunia utamanya. (1993: 46)
Memang benar adanya, Iwan Simatupang lebih dikenal sebagai novel, cerpenis, penulis naskah darama, ataupun esais ketimbang sebagai penyair sebab “Sebagai penyair, namanya jarang disebut-sebut atau dibicarakan secara khusus oleh para peminat dan kritikus sastra. Ini beralasan jika kita ingat bahwa hingga akhir hayatnya Iwan tidak memiliki kumpulan sajak.” (1993: v)
Ah, betapa ironisnya. Hanya karena tidak memiliki buku kumpulan puisi, orang sekaliber Iwan Simatupang jarang dibicarakan dalam khazanah perpuisian Indonesia. Ini menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan banyak penyair-penyair Indonesia yang sebenarnya berkualitas bagus, hanya karena tidak memiliki buku, ia jadi jarang, atau bahkan tak pernah, dibicarakan.
Maka tanpa banyak omong lagi, saya persembahkan tiga buah sajak karya Iwan Simatupang. Selamat menikmati.

REQUIEM
mengenang manusia perang I.H. Simandjuntak:
Let., bunuh diri!

Aku tiada dapat katakan
apakah pergimu pada fajar atau senja
aku hanya tahu
kau pergi berlangit merah mencerah

Sejak kau pergi, prajurit-kematian,
kami berkesulitan menghalau gagak-gagak
ingin berhinggapan di lembah kami
dan berseru seharian dalam suatu lagu
yang bikin kami pada bergelisahan

Langit kami kini bertambah mendung
bukan oleh arakan mega yang bawa rintik-rintik
tapi oleh kawanan gagak
yang kian tutupi celah-celah terakhir
dari kebiruan langit jernih
dan kecuacaan mentari

Kawan
kami kini memikirkan
pengerahan gadis-gadis dan orang tua kami
untuk menghunus segala tombak dan keris hiasan
yang berpacakan di dinding ruang-ruang tamu kami
sebab
sejak kau pergi
pemuda-pemuda gembala dan petani kami
berlomba-lomba meninggalkan lembah
dan pergi lari ke kota
jadi penunggu taman-taman pahlawan
atau pembongkar mayat-mayat

Saksikanlah
di sini ada tantangan dari suatu kemuraman
yang ingin pudarkan segala irama dan kehijauan
dengar di sini ada kesediaan dari nafas demi nafas
yang ingin pertahankan keluasaan jantung berdetak
dalam deretan detik demi detik

Tidak kawan
kami tiada akan mencari pelarian kami
ke dunia tempat mantera berserakan
walau kami tahu
bahwa mantera ditakuti gagak-gagak
dan akan buat langit kami
kembali cerlang

Kami benci mantera-mantera
kami benci semua yang bukan datang
dari kelenjar dan darah kami
sebab kamu tahu
kekuatan yang dalam tanggapan
adalah jua kelemahan

Tidak kawan
kami akan tantang pertarungan ini
tanpa sikap dan gita kepahlawanan
sebab kami tahu
pahlawan berkehunian
bukan di bumi ini.

Kami tiada berani ramalkan
kesudahan dari pertarungan ini
kebenaran bukan lagi dalam
ramal, tenung ataupun renung

Tapi
andaikata lembah kami
menjadi lembah dari gagak-gagak
dan belulang kami mereka jadikan
bagian dari sarang-sarang mereka
ketahuilah
di sini telah rebah
manusia-manusia yang tiada akan
memikul tanda-tanda tanya lagi

Tapi
andaikata gagak dapat kami tiwaskan satu demi satu
dan haruman langit dapat kami hirup dengan luasa kembali
o, kegembiraan kami tiada akan kami unjukkan
dengan sesaat pun jatuh bertiarap di puncak bukit-bukit kami
sambil menatap kerinduan ke udara kosong
dan membacakan mantera-mantera …

Pun tiada akan kami kutuki
pemuda-pemuda kami yang lari ke kota
mencari kegemuruhan dalam menunggu kelengangan
sebab
kami mengibai semua mereka
yang tiada tahu dengan diri
pada kesampaian di tiap perbatasan

Inilah langkah pertama kami
kepengijakan suatu bumi baru
di mana kami bukan lagi tapal
dari kelampauan dan keakanan
tapi
kamilah kelampauan dan keakanan!

Inilah tarikan-nafas kami yang pertama
dalam penghirupan udara di suatu jagat baru
di mana nilai-nilai ketakberhingaan
bukan lagi terletak dalam
ramal, tenung ataupun renung
tapi:
dalam kesegaran dan keserta-mertaan!

Aku tiada dapat katakan
apakah pergimu fajar atau senja
aku hanya tahu
kau pergi berlangit merah mencerah,
pahlawan!

Surabaya, 29 Januari 1953

POTRET

Di sudut kamat seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Tunggu! Sepulangku, bahtera kita kayuh!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Belum jua pulang.

Kini dara sudah lama tak menunggu lagi.
Langkah-langkah pelan, yang biasa datang
Menjelang tengah malam dari kebun belakang
Bawa cium dan kembang—
Takkan lagi kunjung datang.

Di sudut kamar seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Jangan tunggu! Aku bangkai dalam bingkai!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Masih jua belum pelung

Kini dara sudah lama dalam biara.

ZIARAH MALAM

Tahun lalu ia lari tinggalkan biara
Kerna tak tahu tempatkan kasih
Pada Tuhan atau padri muda
Yang masuk biara kerna ingin tobat
Dari dosa: memperkosa ibu tirinya

Bulan lalu ia diangkut ke sanatorium
Kerna tak tahu apa lagi akan dikasihinya
Setelah Tuhan dan padri muda ia tinggalkan
Dan kasih yang membara di buah dadanya
Akhirnya mengapung ke paru-parunya

Siang tadi ia dikubur kemari
Kerna lewat tahu, bahwa kasih
Yang pulang dari Tuhan, daging dan kelengangan
Hanya akan berterima lagi oleh
Tepi pertemuan kembola dan langit malam

Dan di bimbang bintang Tuhan masih Maha Pengasih